Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis pada perhatian, keteraturan dan kontrol diri. Dinyatakan sebagai gangguan bila perilaku-perilaku tersebut bersifat menetap dan mengganggu.
Obsessive compulsive personality disorder (OCPD) atau sering disebut juga dengan gangguan kepribadian anankastik merupakan gangguan psikologis menyeluruh, perfeksionis, kaku dan disiplin keras terhadap aturan, moralitas, dan hidup dengan penuh aturan-aturan yang mengikat dirinya.
Istilah Obsessive compulsive personality disorder sering dibingungkan dengan obsessive-compulsive disorder (OCD), keduanya tidaklah sama dan tidak mempunyai hubungan persamaan.
Individu dengan gangguan OCPD tidak memiliki keinginan-keinginan untuk mengulang perbuatan berkali-kali yang menjadi rutinitas seperti halnya simtom pada gangguan OCD. Kecenderungan perilaku pada OCPD lebih disebabkan oleh stres yang disebabkan keinginan perfeksionis dan rasa cemas yang muncul disebabkan perasaan bahwa dirinya melakukan pekerjaan itu tidak sebaik mungkin. Oleh karenanya, individu dengan gangguan kepribadian ini (OCPD) menguras energinya ketika rasa cemas atau tegang ketika melakukan pekerjaannya.
Individu dengan gangguan OCPD akan menabung sejumlah uang untuk keperluan suatu saat nanti, mengatur rumah dengan sempurna, cemas dirasakan individu bila tugas-tugas yang dilakukannya itu tidak selesai atau berjalan dengan sempurna. Ada 4 hal utama yang membuat penderita OCPD mengalami kecemasan; waktu, hubungan dengan orang lain, ketidakbersihan dan uang.
Cara berpikir OCPD antara hitam-putih (grey areas), mereka percaya bahawa dalam tindakan normatif hanya ada satu kebenaran dan satunya lagi adalah salah, akibatnya individu OCPD kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, sulit menempatkan dirinya dengan teman, bersikap romantis dengan pasangannya atau menjalin hubungan dengan anak-anak. Sulitnya, cara berpikir seperti itu berdasarkan standar yang ditentukan oleh dirinya sendiri berdasarkan pengalaman yang diperolehnya.
SIMTOM
1) Terikat dengan aturan, list atau jadwal
2) Perfeksionis dalam setiap tugas atau pekerjaan yang dilakukan, kendala yang dihadapi bila individu tersebut tidak menemui standar yang dimilikinya
3) Rajin dan tekun pada pekerjaan, hasil (uang) yang diperoleh tidak dihabiskan untuk kegiatan senang-senang atau bersama teman (gejala ini tidak berlaku pada individu yang mengalami kesulitan ekonomi)
4) Sangat konsisten, cermat dan tidak fleksibel menyangkut hal-hal moral, etika dan nilai (akan tetapi tidak berhubungan dengan hal yang menyangkut budaya dan agama)
5) Enggan untuk memberi tugas atau pekerjaan kepada orang lain ketika ia merasakan mampu untuk melakukan tugas itu dengan baik
6) Sulit melepaskan atau membuang barang (seperti pakaian) bila benda-benda tersebut sudah tidak mempunyai nilainya lagi
7) Pelit untuk orang lain bahkan untuk dirinya sendiri, baginya uang haruslah disimpan untuk keperluan sewaktu-waktu yang tidak terduga
8) Rigiditas dan keras kepala
9) Ketika menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang tidak terduga yang menguras tenaga dan membuatnya gugup bila pekerjaan itu tidak terselesaikan.
TREATMENT
Medikasi
Pengobatan secara medis tidak dianjurkan untuk pengobatan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, namun demikian dokter akan memberikan obat-obatan bila disertai dengan gangguan kecemasan atau depresi.
Psikoterapi
• Family therapy
Terapi dapat efektif bila semua anggota keluarga dilibatkan, konselor atau ahli terapi dilibatkan secara langsung dalam keluarga dapat mengurangi letupan amarah dan menjaga hubungan emosional antar sesama anggota keluarga. Dalam terapi ini anggota keluarga dilatih untuk saling menghargai dan bersama-sama menyelesaikan masalah dengan saling mendukung antar anggota keluarga.
• Dialectical behavioral therapy
DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien; antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat
• Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik relaksasi dan meditasi secara tepat.
Jenis terapi lainnya dapat dikonsultasikan kepada ahli terapis dan disesuaikan dengan kepribadian pasien.
Selasa, 09 November 2010
Gangguan Kepribadian Dependen
Gangguan kepribadian dependen (Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung pada orang lain hingga individu tersebut patuh dan terikat erat perilakunya dan takut akan terpisah dengan orang itu. Perilaku ketergantungan dan kepatuhan muncul dari perasaan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah tanpa bantuan orang lain.
Dinyatakan sebagai gangguan bila perilaku-perilaku tersebut menjadi menetap dan sangat mengganggu dan menimbulkan distres. Gangguan kepribadian dependen haruslah dipisahkan (diperhatikan) antara anak-anak dan orang dewasa, pada anak mungkin saja perilaku ini masih dalam tahap perkembangan.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam diagnosa ini adalah perbedaan antara individu yang tergantung dan gangguan kepribadian dependen, diganosa tidak boleh mengabaikan kondisi subjek yang dipengaruhi oleh budaya setempat atau harapan dan gender.
Individu dengan gangguan DPD merasa butuh pertolongan orang lain, mereka beranggapan bahwa sekelilingnya sangat tidak tidak bersahabat dengannya; pikiran-pikiran tersebut diciptakan sendiri. Mereka membutuhkan orang lain, teman dekat atau seseorang yang dapat membantunya dalam melakukan atau memberi dukungan secara langsung untuk mengerti dan memberikan arahan hal-hal yang perlu dilakukannya dengan demikian kecemasan yang dirasakannya dapat berkurang.
Individu dengan DPD terbatas pikiran negatif, persepsi dan hubungan interpersonal, sulit berpikir secara logis dan mereka cenderung untuk mempercayai segala sesuatunya berdasarkan pikirannya dan pengalamannya sendiri.
FAKTOR PENYEBAB
Gangguan kepribadian ini dimulai di awal masa dewasa. Pada dasarnya perilaku ketergantungan adalah hal yang lumrah terjadi pada masa kanak-kanak, namun demikian ketika anak tumbuh menjadi dewasa, perilaku tersebut tidak menjadi hilang. Akibatnya, perilaku ketergantungan tersebut tetap ada sampai menjelang masa dewasa yang kemudian membentuk gangguan kepribadian dependen. Faktor penyebab lainnya adalah sakit berkepanjangan dan kecemasan yang muncul dari perpisahan dengan orangtua, atau orang lain yang sangat dicintainya pada masa kanak-kanak
SIMTOM
1) Kesulitan dalam membuat keputusan setiap harinya tanpa adanya nasehat dan dihibur oleh orang lain
2) Membutuhkan orang lain untuk memikul tanggungjawab pada sebagian besar dalam hidupnya
3) Takut untuk menunjukkan ekspresi ketidaksetujuan terhadap orang lain dikarenakan takut kehilangan support dan persetujuan dari orang tersebut (tidak termasuk ketakutan nyata untuk balas jasa orang lain)
4) Sulit melakukan suatu pekerjaan tertentu tanpa bantuan orang lain (disebabkan rendahnya rasa percaya diri, kurangnya motivasi dan energi)
5) Membutuhkan orang lain yang memberikan dukungan atau teman ketika berpergian atau melakukan suatu pekerjaan yang tidak disukainya.
6) Perasaan tidak nyaman karena adanya perasaan takut yang dibesar-besarkan bahwa dirinya tidak mampu untuk mandiri
7) Individu akan mencari teman baru yang peduli dan mendukungnya ketika hubungan dengan teman sebelumnya telah berakhir
8) Perasaan tidak realistis karena takut ditinggal oleh orang lain
TREATMENT
Individu dengan gangguan kepribadian DPD tidak dianjurkan untuk mendapatkan pengobatan medis farmakologi. Namun demikian, dokter akan menganjurkan pemakaian obat bila individu tersebut disertai gangguan kecemasan atau depresi. Penggunaan antidepressant dan benzodiazepines kadang memberikan kondisi yang baik pada individu. Beberapa jenis obat seperti imipramine (chlorpromazine) justru tidak memberikan hasil yang positif.
Dalam psikoterapi, treatment diberikan dengan tujuan agar individu dengan gangguan kepribadian dapat mencegah semakin memburuknya kondisi pasien, mengembalikan keseimbangan, mengurangi gejala-gejala yang muncul, mengembalikan kemampuan yang telah hilang, dan kemampuan adaptasi. Fokus utama dalam proses mengembalikan kemampuan adaptasi adalah individu mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Psikoterapi dapat dianggap berhasil bila;
- Individu mampu mempunyai komitmen sendiri
- Menikmati hubungan keakraban dengan orang lain
- Mampu menjadi anggota team, tanpa perlu adanya persaingan
- Mampu memberikan opini sendiri kepada orang lain
- Penuh perhatian terhadap orang lain
- Mampu untuk memperbaiki dirinya dari kritikan
Group therapy
Terapi kelompok dianggap paling baik untuk menyembuhkan gangguan kepribadian DPD namun dalam beberapa kasus, beberapa individu membutuhkan waktu yang relatif lama. Dalam terapi ini hasil yang dapat diperoleh; individu lebih percaya diri, mampu berpendapat di tempat umum, dan dapat merasakan perasaan-perasaannya sendiri
Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik relaksasi dan meditasi secara tepat. Terapi ini melatih individu mengontrol emosi negatif, melatih diri agar tidak tergantung pada orang lain dan pengambilan keputusan yang lebih konstruktif tanpa dipengaruhi oleh perasaan negatif.
Dinyatakan sebagai gangguan bila perilaku-perilaku tersebut menjadi menetap dan sangat mengganggu dan menimbulkan distres. Gangguan kepribadian dependen haruslah dipisahkan (diperhatikan) antara anak-anak dan orang dewasa, pada anak mungkin saja perilaku ini masih dalam tahap perkembangan.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam diagnosa ini adalah perbedaan antara individu yang tergantung dan gangguan kepribadian dependen, diganosa tidak boleh mengabaikan kondisi subjek yang dipengaruhi oleh budaya setempat atau harapan dan gender.
Individu dengan gangguan DPD merasa butuh pertolongan orang lain, mereka beranggapan bahwa sekelilingnya sangat tidak tidak bersahabat dengannya; pikiran-pikiran tersebut diciptakan sendiri. Mereka membutuhkan orang lain, teman dekat atau seseorang yang dapat membantunya dalam melakukan atau memberi dukungan secara langsung untuk mengerti dan memberikan arahan hal-hal yang perlu dilakukannya dengan demikian kecemasan yang dirasakannya dapat berkurang.
Individu dengan DPD terbatas pikiran negatif, persepsi dan hubungan interpersonal, sulit berpikir secara logis dan mereka cenderung untuk mempercayai segala sesuatunya berdasarkan pikirannya dan pengalamannya sendiri.
FAKTOR PENYEBAB
Gangguan kepribadian ini dimulai di awal masa dewasa. Pada dasarnya perilaku ketergantungan adalah hal yang lumrah terjadi pada masa kanak-kanak, namun demikian ketika anak tumbuh menjadi dewasa, perilaku tersebut tidak menjadi hilang. Akibatnya, perilaku ketergantungan tersebut tetap ada sampai menjelang masa dewasa yang kemudian membentuk gangguan kepribadian dependen. Faktor penyebab lainnya adalah sakit berkepanjangan dan kecemasan yang muncul dari perpisahan dengan orangtua, atau orang lain yang sangat dicintainya pada masa kanak-kanak
SIMTOM
1) Kesulitan dalam membuat keputusan setiap harinya tanpa adanya nasehat dan dihibur oleh orang lain
2) Membutuhkan orang lain untuk memikul tanggungjawab pada sebagian besar dalam hidupnya
3) Takut untuk menunjukkan ekspresi ketidaksetujuan terhadap orang lain dikarenakan takut kehilangan support dan persetujuan dari orang tersebut (tidak termasuk ketakutan nyata untuk balas jasa orang lain)
4) Sulit melakukan suatu pekerjaan tertentu tanpa bantuan orang lain (disebabkan rendahnya rasa percaya diri, kurangnya motivasi dan energi)
5) Membutuhkan orang lain yang memberikan dukungan atau teman ketika berpergian atau melakukan suatu pekerjaan yang tidak disukainya.
6) Perasaan tidak nyaman karena adanya perasaan takut yang dibesar-besarkan bahwa dirinya tidak mampu untuk mandiri
7) Individu akan mencari teman baru yang peduli dan mendukungnya ketika hubungan dengan teman sebelumnya telah berakhir
8) Perasaan tidak realistis karena takut ditinggal oleh orang lain
TREATMENT
Individu dengan gangguan kepribadian DPD tidak dianjurkan untuk mendapatkan pengobatan medis farmakologi. Namun demikian, dokter akan menganjurkan pemakaian obat bila individu tersebut disertai gangguan kecemasan atau depresi. Penggunaan antidepressant dan benzodiazepines kadang memberikan kondisi yang baik pada individu. Beberapa jenis obat seperti imipramine (chlorpromazine) justru tidak memberikan hasil yang positif.
Dalam psikoterapi, treatment diberikan dengan tujuan agar individu dengan gangguan kepribadian dapat mencegah semakin memburuknya kondisi pasien, mengembalikan keseimbangan, mengurangi gejala-gejala yang muncul, mengembalikan kemampuan yang telah hilang, dan kemampuan adaptasi. Fokus utama dalam proses mengembalikan kemampuan adaptasi adalah individu mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Psikoterapi dapat dianggap berhasil bila;
- Individu mampu mempunyai komitmen sendiri
- Menikmati hubungan keakraban dengan orang lain
- Mampu menjadi anggota team, tanpa perlu adanya persaingan
- Mampu memberikan opini sendiri kepada orang lain
- Penuh perhatian terhadap orang lain
- Mampu untuk memperbaiki dirinya dari kritikan
Group therapy
Terapi kelompok dianggap paling baik untuk menyembuhkan gangguan kepribadian DPD namun dalam beberapa kasus, beberapa individu membutuhkan waktu yang relatif lama. Dalam terapi ini hasil yang dapat diperoleh; individu lebih percaya diri, mampu berpendapat di tempat umum, dan dapat merasakan perasaan-perasaannya sendiri
Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik relaksasi dan meditasi secara tepat. Terapi ini melatih individu mengontrol emosi negatif, melatih diri agar tidak tergantung pada orang lain dan pengambilan keputusan yang lebih konstruktif tanpa dipengaruhi oleh perasaan negatif.
Gangguan Kepribadian Menghindar
Gangguan kepribadian menghindar (avoidant personality disorder; AvPD/APD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu mengalami hambatan-hambatan sosial, rasa tidak percaya diri, sensitif mengevaluasi diri dan menghindari interaksi sosial.
Individu dengan gangguan kepribadian menghindar beranggapan bahwa berinteraksi dengan orang lain tidak perlu ―tidak begitu penting, dan tidak menarik samasekali bagi mereka. Penghindaran tersebut dapat disebabkan individu menghindari atau takut rasa akan diejek, menjadi bahan tertawaan, memalukan, ditolak atau disukai oleh orang lain. Kebanyakan individu dengan gangguan kepribadian merasa hidup sendiri atau dikucilkan dalam lingkungannya.
Bagi individu dengan gangguan kepribadian menghindar, bersahabat bukanlah hal yang penting baginya, ia tidak akan bersusah payah menjalin persahabatan dengan orang lain atau kelompok seandainya ia tidak diterima. Bila ia berada atau bersama orang lain, individu AvPD takut melakukan kesalahan dalam pembicaraan atau takut tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang lain.
Individu dengan gangguan kepribadian menghindar mempunyai karakteristik perhatian berlebihan pada penampilan perilaku, malu berhubungan dengan orang lain, kesulitan dalam mengekspresikan perasaan-perasaannya dan adanya perasaan kesepian (keterasingan).
Individu dengan gangguan AvPD tidak merasakan ada gangguan dalam dirinya ―hal inilah yang menyulitkan gangguan ini untuk disembuhkan, individu tersebut sering menyebutkan dirinya "malu" setiap kali berhadapan dengan orang lain. Bentuk-bentuk penghindaran seperti mengasingkan dirinya, mudah tersinggung dan menjauhkan dirinya dari orang lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penolakan atau penghinaan dirinya.
Beberapa gejala perilaku gangguan kepribadian menghindar kadang membingungkan dengan gejala yang ada pada sosial phobia (SAD, social anxiety disorder) dimana keduanya menghindari kontak sosial, akan tetapi AvPD lebih cenderung pada karakter "pemalu". Sementara pada individu dengan gangguan sosial phobia sulit untuk berbicara dengan orang lain atau ditempat umum. Perbedaan lainnya individu AvPD tidak pernah takut pada situasi-situasi sosial yang akan dihadapinya.
Berbeda halnya dengan individu pemalu, penderita gangguan kepribadian menghindar melakukan sesuatu agar dirinya tidak menonjol dimuka umum, misalnya saja ia akan memilih tempat duduk dibelakang dimana ia tidak akan menjadi pusat perhatian orang, individu ini melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk "membaca situasi" agar ia dapat merasa nyaman dan aman dari pandangan atau perhatian orang lain.
FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab langsung munculnya gangguan ini tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan penolakan secara langsung oleh orangtua pada masa kanak-kanak merupakan salah faktor. Penolakan tersebut membuat anak berhati-hati, selalu menjaga dirinya tidak melakukan kesalahan di depan orang lain mulai berkembang hingga terbentuknya penyimpangan perilaku sampai memasuki fase dewasa.
SIMTOM
1) Menghindari aktivitas yang melibatkan atau berhubungan dengan orang lain karena rasa takut akan dikritik, tidak diterima atau ditolak.
2) Tidak mau berhubungan dengan orang lain kecuali orang-orang tertentu yang menyukainya.
3) Menahan dan mengekang dirinya agar tidak akrab dengan orang lain yang disebabkan oleh rasa malu atau takut diejek oleh orang lain
4) Menghindari yang disebabkan rasa takut terhadap situasi-situasi sosial yang akan membuatnya ditolak atau dikritik orang banyak.
5) Merasa dirinya tidak pantas dalam pelbagai situasi ketika berhubungan dengan orang lain
6) Merasa dirinya tidak layak, tidak menarik dan perasaan-perasaan inferioritas terhadap orang-orang
7) Segan berperan aktif dalam beraktivitas atau kegiatan baru lainnya disebabkan adanya perasaan malu
TREATMENT
• Medikasi
Tidak ada obat-obatan yang dapat menyembuhkan gangguan kepribadian menghindar (AvPD) secara langsung, dokter akan menganjurkan penggunaan obat anti cemas atau antidepressant bila individu bersangkutan disertai dengan kecemasan. Pada kenyataannya, beberapa laporan menyebutkan sebagian besar penderita gangguan kepribadian AvPD disertai dengan gangguan kecemasan, diantaranya juga disertai dengan serangan panik dan agoraphobia.
• Psikoterapi
Terapi yang efektif dalam penyembuhan gangguan kepribadian menghindar sering digunakan adalah Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi kelompok dalam CBT, individu akan dilatih agar mampu menyesuaikan dirinya dengan orang lain, saling menghargai dan mengenal cara berpikir orang lain secara positif.
Individu dengan gangguan kepribadian menghindar beranggapan bahwa berinteraksi dengan orang lain tidak perlu ―tidak begitu penting, dan tidak menarik samasekali bagi mereka. Penghindaran tersebut dapat disebabkan individu menghindari atau takut rasa akan diejek, menjadi bahan tertawaan, memalukan, ditolak atau disukai oleh orang lain. Kebanyakan individu dengan gangguan kepribadian merasa hidup sendiri atau dikucilkan dalam lingkungannya.
Bagi individu dengan gangguan kepribadian menghindar, bersahabat bukanlah hal yang penting baginya, ia tidak akan bersusah payah menjalin persahabatan dengan orang lain atau kelompok seandainya ia tidak diterima. Bila ia berada atau bersama orang lain, individu AvPD takut melakukan kesalahan dalam pembicaraan atau takut tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang lain.
Individu dengan gangguan kepribadian menghindar mempunyai karakteristik perhatian berlebihan pada penampilan perilaku, malu berhubungan dengan orang lain, kesulitan dalam mengekspresikan perasaan-perasaannya dan adanya perasaan kesepian (keterasingan).
Individu dengan gangguan AvPD tidak merasakan ada gangguan dalam dirinya ―hal inilah yang menyulitkan gangguan ini untuk disembuhkan, individu tersebut sering menyebutkan dirinya "malu" setiap kali berhadapan dengan orang lain. Bentuk-bentuk penghindaran seperti mengasingkan dirinya, mudah tersinggung dan menjauhkan dirinya dari orang lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penolakan atau penghinaan dirinya.
Beberapa gejala perilaku gangguan kepribadian menghindar kadang membingungkan dengan gejala yang ada pada sosial phobia (SAD, social anxiety disorder) dimana keduanya menghindari kontak sosial, akan tetapi AvPD lebih cenderung pada karakter "pemalu". Sementara pada individu dengan gangguan sosial phobia sulit untuk berbicara dengan orang lain atau ditempat umum. Perbedaan lainnya individu AvPD tidak pernah takut pada situasi-situasi sosial yang akan dihadapinya.
Berbeda halnya dengan individu pemalu, penderita gangguan kepribadian menghindar melakukan sesuatu agar dirinya tidak menonjol dimuka umum, misalnya saja ia akan memilih tempat duduk dibelakang dimana ia tidak akan menjadi pusat perhatian orang, individu ini melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk "membaca situasi" agar ia dapat merasa nyaman dan aman dari pandangan atau perhatian orang lain.
FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab langsung munculnya gangguan ini tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan penolakan secara langsung oleh orangtua pada masa kanak-kanak merupakan salah faktor. Penolakan tersebut membuat anak berhati-hati, selalu menjaga dirinya tidak melakukan kesalahan di depan orang lain mulai berkembang hingga terbentuknya penyimpangan perilaku sampai memasuki fase dewasa.
SIMTOM
1) Menghindari aktivitas yang melibatkan atau berhubungan dengan orang lain karena rasa takut akan dikritik, tidak diterima atau ditolak.
2) Tidak mau berhubungan dengan orang lain kecuali orang-orang tertentu yang menyukainya.
3) Menahan dan mengekang dirinya agar tidak akrab dengan orang lain yang disebabkan oleh rasa malu atau takut diejek oleh orang lain
4) Menghindari yang disebabkan rasa takut terhadap situasi-situasi sosial yang akan membuatnya ditolak atau dikritik orang banyak.
5) Merasa dirinya tidak pantas dalam pelbagai situasi ketika berhubungan dengan orang lain
6) Merasa dirinya tidak layak, tidak menarik dan perasaan-perasaan inferioritas terhadap orang-orang
7) Segan berperan aktif dalam beraktivitas atau kegiatan baru lainnya disebabkan adanya perasaan malu
TREATMENT
• Medikasi
Tidak ada obat-obatan yang dapat menyembuhkan gangguan kepribadian menghindar (AvPD) secara langsung, dokter akan menganjurkan penggunaan obat anti cemas atau antidepressant bila individu bersangkutan disertai dengan kecemasan. Pada kenyataannya, beberapa laporan menyebutkan sebagian besar penderita gangguan kepribadian AvPD disertai dengan gangguan kecemasan, diantaranya juga disertai dengan serangan panik dan agoraphobia.
• Psikoterapi
Terapi yang efektif dalam penyembuhan gangguan kepribadian menghindar sering digunakan adalah Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi kelompok dalam CBT, individu akan dilatih agar mampu menyesuaikan dirinya dengan orang lain, saling menghargai dan mengenal cara berpikir orang lain secara positif.
Gangguan Kepribadian Antisosial
Gangguan kepribadian antisosial secara klinis merupakan gangguan karakter kronis seperti sifat menipu, pemaksaan dan cenderung berlawanan dengan orang-orang secara umumnya. Penderita gangguan kepribadian antisosial ini pada umumnya adalah perilaku kriminal.
Individu pengidap gangguan kepribadian antisosial kurang peduli dengan moralitas dan standar hukum yang berlaku di dalam masyarakat, bahkan mereka cenderung untuk melawan hukum-hukum sosial yang berlaku.
KRITERIA GANGGUAN
Gangguan kepribadian antisosial didiagnosa bila individu sudah berada diatas 18 tahun.
1) Kerab melakukan kekerasan yang bertentangan dengan norma masyarakat setempat;
- Mengulangi perilaku untuk beberapa kalinya dengan tujuan ia agar dapat ditangkap
- Menggunakan nama samaran dan pengulangan secara terus menerus untuk berbohong,
- Melakukan pembunuhan secara berulang
- Sering berkelahi atau melakukan kekerasan
- Impulsif, tidak pernah merasa bersalah
- Kegagalan dalam finansial
- Rasionalisasi dan membebani orang lain
- Melakukan tindakan yang membahayakan orang lain
2) Kurang peka dan tidak ada respon positif terhadap orang lain, masalah sosial, norma dan hukum setempat
3) Tidak mempunyai perasaan bersalah akan tetapi suka menghukum orang lain
4) Mempunyai gangguan tingkah laku ketika masa kanak-kanak
5) Simtom yang muncul bukan disebabkan oleh gangguan mental lainnya.
SIMTOM
- Kebiasaan mencuri dan kebiasaan berbohong hampir setiap saat
- Pengulangan pelanggaran terhadap hukum berulang
- Tendensi terhadap kekerasan pada kepemilikan orang lain, kekerasan seksual dan emosi
- Agresif, perilaku kekerasan atau terlibat perkelahian
- Mudah teragitasi atau perasaan-perasaan yang merujuk pada depresi
- Kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain
- Tidak ramah atau tidak menyenangkan
- Sembrono dan impulsif
- Tidak ada rasa penyesalan dan cenderung menyakiti orang lain
- Melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan orang lain
- Kesulitan dalam mempertahankan pekerjaannya
- Mudah frustrasi
FAKTOR PENYEBAB
Perilaku antisosial berkembang dan terbentuk dari hubungan sosial dalam rumahtangga yang penuh dengan kekerasan, komunitas masyarakat dan lingkungan pendidikan yang penuh kekerasan juga ikut mempengaruhi terbentuknya gangguan antisosial. Hal ini akan mempengaruhi temperamen dan sikap lekas marah pada anak, kemampuan berpikir, keterlibatan dalam kenakalan remaja, terlibat dalam kekerasan dan kriminalias dan rendahnya penyelesaian permasalahan. Perilaku antisosial berhubungan erat dengan pelbagai bentuk perilaku lainnya dan masalah perkembangan seperti hiperaktif, depresi, kesulitan belajar, dan impulsif.
Beberapa faktor penyebab terbentuknya gangguan kepribadian antisosial;
- Anak yang mengalami kekerasan fisik atau disertai kekerasan seksual
- Anak yang mengalami penolakan dari keluarga dan lingkungan
- Anak dari orangtua penderita antisosial juga
- Anak dari orangtua pengguna alkohol
- Terlibat dalam kelompok bermain dengan perilaku antisosial
- Kehidupan rumahtangga yang kacau
- Kurangnya pendidikan dari orangtua
- Anak tumbuh dari orangtua yang terpisah, meninggal atau bercerai
- Memiliki gangguan perhatian
- Memiliki gangguan dalam membaca
- Kemiskinan, pengangguran atau sebab-sebab ekonomi lainnya
- Faktor-faktor neurobiologi;
> komplikasi persalinan
> berat bayi dibawah berat normal
> kerusakan otak pada masa kelahiran
> luka trauma pada kepala
> sakit parah
Pengaruh besar dari kekerasan melalui media seperti televisi, film, internet, video games bahkan film kartun sekalipun pada masa kanak-kanak akan menumbuhkan anak dalam kekerasan, agresif dan antisosial dikemudian hari.
Penelitian Robins (1966)4 menemukan bahwa pembentukan karakteristik sosiopat seseorang mempunyai hubungan erat pada anak yang memiliki orangtua alkoholik yang nantinya membentuk anak menjadi seorang antisosial. Disamping itu Robin juga menemukan pada keluarga-keluarga tersebut, terjadinya pembentukan karakter APD pada anak laki dan gangguan somatisasi pada anak perempuan. Hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Glueck dan Glueck (1968) yang melihat pengaruh orangtua alkoholik, kekerasan terhadap anak dan kehidupan rumahtangga yang berantakan. Glueck juga meneliti bahwa orangtua yang tidak menerapkan disiplin terhadap anak dan kurangnya kasih sayang yang diberikan kepada sang anak dapat menumbuhkan gangguan kepribadian antisosial dikemudian hari
PENCEGAHAN
Karena kemunculan awal diagnosa gangguan kepribadian pada masa remaja, maka diperlukan intervensi secara dini sebelum terbentuk kepribadian antisosial pada awal masa dewasa nantinya;
> Kurangilah hukuman untuk mengontrol perilaku
> Penegasan terhadap aturan dan menerapkan disiplin pada anak
> Kurangi kesalahan-kesalahan dalam dunia pendidikan terhadap cara mengajar guru
> Belajar pelbagai permasalahan sosial dan penerapan EQ terutama pada keahlian interpersonal
> Konsisten terhadap konsekuensi dari perilaku-perilaku yang buruk
> Belajar menghormati orang lain, perbedaan etnis, budaya dan sebagainya.
Keberhasilan sebuah intervensi dan treatmen dalam penyembuhan gangguan kepribadian sangat tergantung beberapa anggota komunitas yang berperan aktif dan saling berkesinambungan, orangtua, guru (termasuk bimbingan konselor sekolah) dan lingkungan masyarakat yang sehat. Langkah terbaik adalah dengan pencegahan kemunculan gejala awal gangguan kepribadian antisosial;
1) Pendidikan dasar secara dini pada masa anak-anak; penyelesaian masalah, pengenalan emosi, dan pengendalian amarah dengan cara konseling, latihan-latihan mengenai ketrampilan sosial, hubungan interaksi dengan orang lain dan sebagainya
2) Sekolah perlu mendatangkan tenaga ahli profesional yang dapat membangkitkan motivasi dan cara pendidikan yang tepat yang diperuntukkan untuk orangtua murid. Selain itu even seperti ini dapat juga memberi manfaat kepada orangtua untuk meningkatkan efektifitas strategi keluarga dalam mengantisipasi terbentuknya gangguan kepribadian anak sejak dini
3) Siswa yang mengidap gejala-gejala gangguan kepribadian antisosial diberikan bantuan konseling dan terlibat langsung dalam group komunitas yang peduli dengan kesehatan mental
4) Pendidikan masyarakat, termasuk di dalamnya organisasi kepemudaan yang telah di latih oleh ahli terapis yang dapat membantu anak-anak yang beresiko mengalami gangguan kepribadian antisosial
TREATMENT
Medikasi
Sejauh ini tidak ada jenis obat efektif untuk mengobati gangguan kepribadian antisosial, obat-obat diberikan untuk beberapa kondisi tertentu yang terjadi pada pasien. Obat anti psikotik diberikan bertujuan mengontrol simtom-simtom yang muncul seperti paranoia, permusuhan dan agresivitas dan impulsif. Obat ini tidak boleh diberikan dalam dosisi tinggi dan melalui kontrol dari dokter.
Jenis obat stablishing mood, jenis lithium (Eskalith, Lithobid) merupakan jenis obat yang diberikan untuk membantu pasien agar lebih tenang
Psikoterapi
Beberapa alternatif penyembuhan melalui terapi psikologis dapat dilakukan dengan schema therapy, dialectic behavioural therapy (DBT), psychoanalytic psychotherapy, dan cognitive analytical therapy (CAT)
Individu pengidap gangguan kepribadian antisosial kurang peduli dengan moralitas dan standar hukum yang berlaku di dalam masyarakat, bahkan mereka cenderung untuk melawan hukum-hukum sosial yang berlaku.
KRITERIA GANGGUAN
Gangguan kepribadian antisosial didiagnosa bila individu sudah berada diatas 18 tahun.
1) Kerab melakukan kekerasan yang bertentangan dengan norma masyarakat setempat;
- Mengulangi perilaku untuk beberapa kalinya dengan tujuan ia agar dapat ditangkap
- Menggunakan nama samaran dan pengulangan secara terus menerus untuk berbohong,
- Melakukan pembunuhan secara berulang
- Sering berkelahi atau melakukan kekerasan
- Impulsif, tidak pernah merasa bersalah
- Kegagalan dalam finansial
- Rasionalisasi dan membebani orang lain
- Melakukan tindakan yang membahayakan orang lain
2) Kurang peka dan tidak ada respon positif terhadap orang lain, masalah sosial, norma dan hukum setempat
3) Tidak mempunyai perasaan bersalah akan tetapi suka menghukum orang lain
4) Mempunyai gangguan tingkah laku ketika masa kanak-kanak
5) Simtom yang muncul bukan disebabkan oleh gangguan mental lainnya.
SIMTOM
- Kebiasaan mencuri dan kebiasaan berbohong hampir setiap saat
- Pengulangan pelanggaran terhadap hukum berulang
- Tendensi terhadap kekerasan pada kepemilikan orang lain, kekerasan seksual dan emosi
- Agresif, perilaku kekerasan atau terlibat perkelahian
- Mudah teragitasi atau perasaan-perasaan yang merujuk pada depresi
- Kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain
- Tidak ramah atau tidak menyenangkan
- Sembrono dan impulsif
- Tidak ada rasa penyesalan dan cenderung menyakiti orang lain
- Melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan orang lain
- Kesulitan dalam mempertahankan pekerjaannya
- Mudah frustrasi
FAKTOR PENYEBAB
Perilaku antisosial berkembang dan terbentuk dari hubungan sosial dalam rumahtangga yang penuh dengan kekerasan, komunitas masyarakat dan lingkungan pendidikan yang penuh kekerasan juga ikut mempengaruhi terbentuknya gangguan antisosial. Hal ini akan mempengaruhi temperamen dan sikap lekas marah pada anak, kemampuan berpikir, keterlibatan dalam kenakalan remaja, terlibat dalam kekerasan dan kriminalias dan rendahnya penyelesaian permasalahan. Perilaku antisosial berhubungan erat dengan pelbagai bentuk perilaku lainnya dan masalah perkembangan seperti hiperaktif, depresi, kesulitan belajar, dan impulsif.
Beberapa faktor penyebab terbentuknya gangguan kepribadian antisosial;
- Anak yang mengalami kekerasan fisik atau disertai kekerasan seksual
- Anak yang mengalami penolakan dari keluarga dan lingkungan
- Anak dari orangtua penderita antisosial juga
- Anak dari orangtua pengguna alkohol
- Terlibat dalam kelompok bermain dengan perilaku antisosial
- Kehidupan rumahtangga yang kacau
- Kurangnya pendidikan dari orangtua
- Anak tumbuh dari orangtua yang terpisah, meninggal atau bercerai
- Memiliki gangguan perhatian
- Memiliki gangguan dalam membaca
- Kemiskinan, pengangguran atau sebab-sebab ekonomi lainnya
- Faktor-faktor neurobiologi;
> komplikasi persalinan
> berat bayi dibawah berat normal
> kerusakan otak pada masa kelahiran
> luka trauma pada kepala
> sakit parah
Pengaruh besar dari kekerasan melalui media seperti televisi, film, internet, video games bahkan film kartun sekalipun pada masa kanak-kanak akan menumbuhkan anak dalam kekerasan, agresif dan antisosial dikemudian hari.
Penelitian Robins (1966)4 menemukan bahwa pembentukan karakteristik sosiopat seseorang mempunyai hubungan erat pada anak yang memiliki orangtua alkoholik yang nantinya membentuk anak menjadi seorang antisosial. Disamping itu Robin juga menemukan pada keluarga-keluarga tersebut, terjadinya pembentukan karakter APD pada anak laki dan gangguan somatisasi pada anak perempuan. Hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Glueck dan Glueck (1968) yang melihat pengaruh orangtua alkoholik, kekerasan terhadap anak dan kehidupan rumahtangga yang berantakan. Glueck juga meneliti bahwa orangtua yang tidak menerapkan disiplin terhadap anak dan kurangnya kasih sayang yang diberikan kepada sang anak dapat menumbuhkan gangguan kepribadian antisosial dikemudian hari
PENCEGAHAN
Karena kemunculan awal diagnosa gangguan kepribadian pada masa remaja, maka diperlukan intervensi secara dini sebelum terbentuk kepribadian antisosial pada awal masa dewasa nantinya;
> Kurangilah hukuman untuk mengontrol perilaku
> Penegasan terhadap aturan dan menerapkan disiplin pada anak
> Kurangi kesalahan-kesalahan dalam dunia pendidikan terhadap cara mengajar guru
> Belajar pelbagai permasalahan sosial dan penerapan EQ terutama pada keahlian interpersonal
> Konsisten terhadap konsekuensi dari perilaku-perilaku yang buruk
> Belajar menghormati orang lain, perbedaan etnis, budaya dan sebagainya.
Keberhasilan sebuah intervensi dan treatmen dalam penyembuhan gangguan kepribadian sangat tergantung beberapa anggota komunitas yang berperan aktif dan saling berkesinambungan, orangtua, guru (termasuk bimbingan konselor sekolah) dan lingkungan masyarakat yang sehat. Langkah terbaik adalah dengan pencegahan kemunculan gejala awal gangguan kepribadian antisosial;
1) Pendidikan dasar secara dini pada masa anak-anak; penyelesaian masalah, pengenalan emosi, dan pengendalian amarah dengan cara konseling, latihan-latihan mengenai ketrampilan sosial, hubungan interaksi dengan orang lain dan sebagainya
2) Sekolah perlu mendatangkan tenaga ahli profesional yang dapat membangkitkan motivasi dan cara pendidikan yang tepat yang diperuntukkan untuk orangtua murid. Selain itu even seperti ini dapat juga memberi manfaat kepada orangtua untuk meningkatkan efektifitas strategi keluarga dalam mengantisipasi terbentuknya gangguan kepribadian anak sejak dini
3) Siswa yang mengidap gejala-gejala gangguan kepribadian antisosial diberikan bantuan konseling dan terlibat langsung dalam group komunitas yang peduli dengan kesehatan mental
4) Pendidikan masyarakat, termasuk di dalamnya organisasi kepemudaan yang telah di latih oleh ahli terapis yang dapat membantu anak-anak yang beresiko mengalami gangguan kepribadian antisosial
TREATMENT
Medikasi
Sejauh ini tidak ada jenis obat efektif untuk mengobati gangguan kepribadian antisosial, obat-obat diberikan untuk beberapa kondisi tertentu yang terjadi pada pasien. Obat anti psikotik diberikan bertujuan mengontrol simtom-simtom yang muncul seperti paranoia, permusuhan dan agresivitas dan impulsif. Obat ini tidak boleh diberikan dalam dosisi tinggi dan melalui kontrol dari dokter.
Jenis obat stablishing mood, jenis lithium (Eskalith, Lithobid) merupakan jenis obat yang diberikan untuk membantu pasien agar lebih tenang
Psikoterapi
Beberapa alternatif penyembuhan melalui terapi psikologis dapat dilakukan dengan schema therapy, dialectic behavioural therapy (DBT), psychoanalytic psychotherapy, dan cognitive analytical therapy (CAT)
Gangguan Kepribadian Ambang
Gangguan kepribadian borderline merupakan taksologi yang terdapat pada DSM IV sementara pada ICD disebut sebagai Emotionally Unstable Personality Disorder. Gangguan kepribadian borderline merupakan gangguan kepribadian dalam menjalin hubungan dengan orang lain, mengenal perasaan-perasaan sendiri, dan kegagalan dalam mengontrol emosi dan perilaku yang disebabkannya. Masalah yang paling menonjol pada penderita gangguan kepribadian ini adalah adanya dorongan impuls bunuh diri atau perilaku-perilaku untuk mencelakakan diri sendiri.
Borderline personality disorder (BPD), merupakan gangguan fungsi kepribadian dalam jangka waktu yang lama —di klasifikasi dalam tipe cluster B gangguan kepribadian dramatik, gangguan impuls kontrol, fungsi emosional bersama dengan bentuk gangguan kepribadian narsisistik, histrionik dan antisosial.
Bentuk gangguan kepribadian borderline seperti ketidakstabilan mood, cara berpikir "hitam-putih", ketidakstabilan dalam mempertahankan hubungan interpersonal, gambaran diri, emosi dan perilaku merupakan gangguan nyata pada gangguan keperibadian ini. Dalam beberapa kasus terjadinya gangguan kehilangan identitas emosional diri, kehilangan fokus (dissociative/deformation) yang berdampak pada gangguan lainnya dalam aspek kehidupan psikososial.
KRITERIA GANGGUAN
Kriteria gangguan kepribadian borderline berdasarkan DSM IV, setidaknya harus ada 5 kriteria yang harus ada;
Permasalahan yang menyangkut tentang emosi:
Permasalahan terberat yang dialami oleh penderita BPD adalah kontrol terhadap emosinya. Mereka merasakan bahwa luapan emosi yang muncul sangat menganggunya, kadang mereka mencoba untuk merepresi emosi tersebut akan tetapi justru membuat emosi itu hilang, atau memunculkan perasaan bosan. Hampir separuh waktu penderita BPD mempunyai permasalahan dengan amarah, kekerasaan atau meningkatnya perilaku agresivitas ketika emosi-emosi itu dipendam atau direpresi. Permasalahan gangguan mood berupa depresi sering menyertai gangguan ini.
1) Terjadi perubahan mood tidak menentu
2) Sering marah, terus meningkat dan tidak dapat dikontrol
Permasalahan yang menyangkut perilaku
3) Perilaku untuk melukai diri sendiri dengan cara menyayat bagian tubuh sendiri, keinginan dan percobaan untuk bunuh diri, setidaknya pernah dilakukan oleh individu lebih dari sekali.
4) Adanya potensi untuk merusak dirinya sendiri seperti terlibat dalam penggunaan narkoba, alkohol, perjudian, gangguan makan, mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan, terlibat perilaku seksual kompulsif (setidaknya ada 2 perilaku impulsif).
Permasalahan yang menyangkut identitas diri
Termasuk dalam pengalaman dan identifikasi diri, kesulitan untuk mengenal perasaan sendiri, pikiran-pikiran yang muncul. Penderita BPD tidak berpikir seperti apa yang ia pikirkan, apa yang mereka katakan atau sesuatu yang seharusnya mereka yakini, mereka terpengaruhi oleh pendapat-pendapat orang lain.
5) Gangguan nyata dalam identitas diri; self-image, orientasi seksual, pilihan karir, perencanaan masa depan, hubungan persahabatan.
6) Rasa kesepian dan rasa bosan sepanjang hidupnya
Permasalahan dalam berhubungan dengan orang lain.
Permasalahan dalam hubungan dengan orang lain termasuk; perasaan kuat terhadap cinta dan rasa benci, perasaan sensitif terhadap kritikan dan penolakan. Kadang beberapa penderita BPD kesulitan mengikat dirinya dalam sebuah hubungan yang positif, akan tetapi kadang ketergantungan pada orang lain sangat kuat sementara sebagian besarnya mereka sangat dependen atau menghindari keakraban. Perasaan-perasaan emosi yang ditekan membuat penderita gangguan kepribadian ini sulit mempercayai orang lain.
7) Tidak stabil dan permasalahan dalam menciptakan sebuah hubungan yang disebabkan oleh cara berpikir "hitam-putih"
8) Kebingungan dalam menjalin sebuah hubungan, ditinggal atau mempertahankan sebuah hubungan.
- Melihat orang lain hanya dengan cara; baik atau buruk
- kadang ia ingin dekat dengan seseorang akan tetapi ketika hubungan tersebut semakin dekat timbul keinginan untuk menjaga jarak (I Hate You, Don't Leave Me)
- Kesulitan untuk mempercayai orang lain
- Adanya perasaan untuk butuh orang lain untuk mengusir rasa sepi
- Menumbuhkan perasaan-perasaan tertentu untuk menentramkan hati
9) Berada diluar dirinya, stres berhubungan dengan ide-ide paranoid dan gejala disasosiatif
FAKTOR PENYEBAB
Seperti bentuk gangguan kepribadian lainnya BPD mempunyai pelbagai faktor kompleks terbentuknya gangguan tersebut. Faktor terbesar gangguan disebabkan oleh pengalaman trauma yang dialami ketka masa kanak-kanak seperti kekerasan seksual, penolakan dari rangtua pada masa perkembangan. Sekitar 70% individu yang didiagnosa mengidap gangguan BPD mempunyai pengalaman trauma pelecehan dan kekerasan seksual di masa kecil.
1) Kekerasan pada masa kanak-kanak, penolakan dan terpisah dengan orangtua kandung
Banyak studi menunjukkan bahwa hubungan kekerasan pada anak, terutama pelecehan dan kekerasan seksual akan menumbuhkan perkembangan kepribadian anak di kemudian hari menjadi BPD. Penderita gangguan kepribadian borderline mengalami kekerasan verbal, emosi, fisik dan seksual pada masa perkembangan kanak-kanaknya. Pada anak-anak perempuan yang yang terpisah dari orangtua kandung dan dipungut oleh orangtua asuh mempunyai resiko mengalami kekerasan dan pelecehan seksual lebih besar dibandingkan anak laki, akan tetapi antara keduanya memiliki potensi kekerasan lainnya. Keduanya mempunyai hubungan keterdekatan kemunculan gangguan kepribadian pada fase perkembangan selanjutnya.
2) Faktor perkembangan lainnya
Faktor lain kemunculan gangguan kepribadian borderline tidak hanya disebabkan oleh gangguan spektrum dari trauma saja, penelitian Kernberg menyebutkan bahwa kemunculan BPD disebabkan oleh kegagalan tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak. Kegagalan tersebut berupa kegagalan anak dalam mengenal dan membedakan diri anak dengan orang lain yang selanjutnya berkembang bentuk-bentuk psikosis pada anak.
Pendidikan orangtua di rumah juga ikut mempengaruhi terbentuknya BPD, seperti interaksi negatif antara orangtua-anak, kurangnya empati, dan lebih besar kritikan yang ditujukkan pada anak diabndingkan penghargaan.
3) Faktor genetik
Beberapa literatur menyebutkan bahwa perlakuan-perlakuan yang berhubungan dengan BPD akan mempengaruhi pada gen yang nantinya akan mempengaruhi pada kepribadian anak, akan tetapi faktor genetik ini masih diteliti lebih lanjut. Pengaruh serotonin berhubungan dengan genetik diduga juga ikut berpengaruh
4) Fungsi neurotransmiter
Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, norepinephrine dan acetylcholine (berpengaruh pada jenis emosi dan mood); GABA, (stabilisator perubahan mood), fungsi amygdala; ikut mempengaruhi perilaku-perilaku penderita BPD dalam merespon stressor yang muncul. Perilaku impulsif dan agresivitas disebabkan oleh ketidakseimbangan serotonin dan bagian wilayah prefrontal kortek.
TREATMENT
Psikoterapi
Dialectical behavioral therapy
Pertama sekali diperkenalkan oleh Marsha Linehan pada tahun 1990an untuk intervensi pada pasien yang berkeinginan untuk bunuh diri, dialectical behavioral therapy (DBT) pada perawatan BPD merupakan terapi yang berlandaskan pada teori biososial yakni menekankan fungsi-fungsi pribadi dalam mengatur emosi yang sesuai dengan pengalaman lingkungan.
DBT berasal dari pelbagai bentuk terapi dari congnitive-behavioral akan tetapi pada DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien; antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat
Schema therapy
Schema therapy merupakan pendekatan didasarkan pada perilaku-kognitif dan gestalt. Fokus terapi ini pada aspek emosi, kepribadian dan bagaimana individu bereaksi dengan lingkungan. Dalam treatment ini menitikberatkan pada hubungan antara terapis dan klien (pendampingan; reparenting), kehidupan sehari-hari klien diluar terapi, dan pengalaman trauma masa kecil.
Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT) adalah jenis terapi yang sangat luas penggunaannya untuk treatment gangguan mental, namun dalam penyembuhan gangguan BPD terapi ini dianggap kurang efektif. Kesulitan ditemui ketika pengembangan hubungan interpersonal bersamaan dengan treatment yang diberikan, oleh karenanya CBT juga mengadopsi schema therapy.
Family therapy
Terapi keluarga sangat membantu untuk mengurangi konflik dan stres yang dapat memperburuk kondisi mental individu dengan BPD. Terapi keluarga melatih anggota keluarga menghargai individu BPD, meningkatkan komunikasi dan penyelesaian masalah secara bersama-sama dan saling mendukung antar pasangannya.
Transference-focused psychotherapy
Transference-focused psychotherapy (TFP) merupakan bentuk dari terapi psikoanalisa yang dikembangkan oleh Otto Kernberg. Tidak seperti psikoanalisa yang dianggap sudah ketinggalan jaman, terapis dalam TFP berperan aktif secara bersama-sama denga klien dalam setiap sesi treatment. Terapis berusaha menggali dan mengklarifikasi aspek-aspek dalam persahabatan yang sesuai dengan kebutuhan klien.
Mentalization based treatment
Terapi Mentalization based treatment (MBT) merupakan bentuk regulasi kembali mental yang dianggap telah terganggu setelah mengalami pelbagai permasalahan di masa kanak-kanak. Fokus dalam terapi ini adalah mengembangkan diri pasien secara mandiri untuk mengatur cara berpikir berdasarkan teori-teori psikodinamika. Dalam terapi ini diusahakan pasien tidak menghabiskan waktunya begitu lama di rumah sakit, pengurangan pemakaian obat medis, dan menghilangkan hasrat-hasrat negatif seperti keinginan untuk bunuh diri.
Borderline personality disorder (BPD), merupakan gangguan fungsi kepribadian dalam jangka waktu yang lama —di klasifikasi dalam tipe cluster B gangguan kepribadian dramatik, gangguan impuls kontrol, fungsi emosional bersama dengan bentuk gangguan kepribadian narsisistik, histrionik dan antisosial.
Bentuk gangguan kepribadian borderline seperti ketidakstabilan mood, cara berpikir "hitam-putih", ketidakstabilan dalam mempertahankan hubungan interpersonal, gambaran diri, emosi dan perilaku merupakan gangguan nyata pada gangguan keperibadian ini. Dalam beberapa kasus terjadinya gangguan kehilangan identitas emosional diri, kehilangan fokus (dissociative/deformation) yang berdampak pada gangguan lainnya dalam aspek kehidupan psikososial.
KRITERIA GANGGUAN
Kriteria gangguan kepribadian borderline berdasarkan DSM IV, setidaknya harus ada 5 kriteria yang harus ada;
Permasalahan yang menyangkut tentang emosi:
Permasalahan terberat yang dialami oleh penderita BPD adalah kontrol terhadap emosinya. Mereka merasakan bahwa luapan emosi yang muncul sangat menganggunya, kadang mereka mencoba untuk merepresi emosi tersebut akan tetapi justru membuat emosi itu hilang, atau memunculkan perasaan bosan. Hampir separuh waktu penderita BPD mempunyai permasalahan dengan amarah, kekerasaan atau meningkatnya perilaku agresivitas ketika emosi-emosi itu dipendam atau direpresi. Permasalahan gangguan mood berupa depresi sering menyertai gangguan ini.
1) Terjadi perubahan mood tidak menentu
2) Sering marah, terus meningkat dan tidak dapat dikontrol
Permasalahan yang menyangkut perilaku
3) Perilaku untuk melukai diri sendiri dengan cara menyayat bagian tubuh sendiri, keinginan dan percobaan untuk bunuh diri, setidaknya pernah dilakukan oleh individu lebih dari sekali.
4) Adanya potensi untuk merusak dirinya sendiri seperti terlibat dalam penggunaan narkoba, alkohol, perjudian, gangguan makan, mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan, terlibat perilaku seksual kompulsif (setidaknya ada 2 perilaku impulsif).
Permasalahan yang menyangkut identitas diri
Termasuk dalam pengalaman dan identifikasi diri, kesulitan untuk mengenal perasaan sendiri, pikiran-pikiran yang muncul. Penderita BPD tidak berpikir seperti apa yang ia pikirkan, apa yang mereka katakan atau sesuatu yang seharusnya mereka yakini, mereka terpengaruhi oleh pendapat-pendapat orang lain.
5) Gangguan nyata dalam identitas diri; self-image, orientasi seksual, pilihan karir, perencanaan masa depan, hubungan persahabatan.
6) Rasa kesepian dan rasa bosan sepanjang hidupnya
Permasalahan dalam berhubungan dengan orang lain.
Permasalahan dalam hubungan dengan orang lain termasuk; perasaan kuat terhadap cinta dan rasa benci, perasaan sensitif terhadap kritikan dan penolakan. Kadang beberapa penderita BPD kesulitan mengikat dirinya dalam sebuah hubungan yang positif, akan tetapi kadang ketergantungan pada orang lain sangat kuat sementara sebagian besarnya mereka sangat dependen atau menghindari keakraban. Perasaan-perasaan emosi yang ditekan membuat penderita gangguan kepribadian ini sulit mempercayai orang lain.
7) Tidak stabil dan permasalahan dalam menciptakan sebuah hubungan yang disebabkan oleh cara berpikir "hitam-putih"
8) Kebingungan dalam menjalin sebuah hubungan, ditinggal atau mempertahankan sebuah hubungan.
- Melihat orang lain hanya dengan cara; baik atau buruk
- kadang ia ingin dekat dengan seseorang akan tetapi ketika hubungan tersebut semakin dekat timbul keinginan untuk menjaga jarak (I Hate You, Don't Leave Me)
- Kesulitan untuk mempercayai orang lain
- Adanya perasaan untuk butuh orang lain untuk mengusir rasa sepi
- Menumbuhkan perasaan-perasaan tertentu untuk menentramkan hati
9) Berada diluar dirinya, stres berhubungan dengan ide-ide paranoid dan gejala disasosiatif
FAKTOR PENYEBAB
Seperti bentuk gangguan kepribadian lainnya BPD mempunyai pelbagai faktor kompleks terbentuknya gangguan tersebut. Faktor terbesar gangguan disebabkan oleh pengalaman trauma yang dialami ketka masa kanak-kanak seperti kekerasan seksual, penolakan dari rangtua pada masa perkembangan. Sekitar 70% individu yang didiagnosa mengidap gangguan BPD mempunyai pengalaman trauma pelecehan dan kekerasan seksual di masa kecil.
1) Kekerasan pada masa kanak-kanak, penolakan dan terpisah dengan orangtua kandung
Banyak studi menunjukkan bahwa hubungan kekerasan pada anak, terutama pelecehan dan kekerasan seksual akan menumbuhkan perkembangan kepribadian anak di kemudian hari menjadi BPD. Penderita gangguan kepribadian borderline mengalami kekerasan verbal, emosi, fisik dan seksual pada masa perkembangan kanak-kanaknya. Pada anak-anak perempuan yang yang terpisah dari orangtua kandung dan dipungut oleh orangtua asuh mempunyai resiko mengalami kekerasan dan pelecehan seksual lebih besar dibandingkan anak laki, akan tetapi antara keduanya memiliki potensi kekerasan lainnya. Keduanya mempunyai hubungan keterdekatan kemunculan gangguan kepribadian pada fase perkembangan selanjutnya.
2) Faktor perkembangan lainnya
Faktor lain kemunculan gangguan kepribadian borderline tidak hanya disebabkan oleh gangguan spektrum dari trauma saja, penelitian Kernberg menyebutkan bahwa kemunculan BPD disebabkan oleh kegagalan tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak. Kegagalan tersebut berupa kegagalan anak dalam mengenal dan membedakan diri anak dengan orang lain yang selanjutnya berkembang bentuk-bentuk psikosis pada anak.
Pendidikan orangtua di rumah juga ikut mempengaruhi terbentuknya BPD, seperti interaksi negatif antara orangtua-anak, kurangnya empati, dan lebih besar kritikan yang ditujukkan pada anak diabndingkan penghargaan.
3) Faktor genetik
Beberapa literatur menyebutkan bahwa perlakuan-perlakuan yang berhubungan dengan BPD akan mempengaruhi pada gen yang nantinya akan mempengaruhi pada kepribadian anak, akan tetapi faktor genetik ini masih diteliti lebih lanjut. Pengaruh serotonin berhubungan dengan genetik diduga juga ikut berpengaruh
4) Fungsi neurotransmiter
Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, norepinephrine dan acetylcholine (berpengaruh pada jenis emosi dan mood); GABA, (stabilisator perubahan mood), fungsi amygdala; ikut mempengaruhi perilaku-perilaku penderita BPD dalam merespon stressor yang muncul. Perilaku impulsif dan agresivitas disebabkan oleh ketidakseimbangan serotonin dan bagian wilayah prefrontal kortek.
TREATMENT
Psikoterapi
Dialectical behavioral therapy
Pertama sekali diperkenalkan oleh Marsha Linehan pada tahun 1990an untuk intervensi pada pasien yang berkeinginan untuk bunuh diri, dialectical behavioral therapy (DBT) pada perawatan BPD merupakan terapi yang berlandaskan pada teori biososial yakni menekankan fungsi-fungsi pribadi dalam mengatur emosi yang sesuai dengan pengalaman lingkungan.
DBT berasal dari pelbagai bentuk terapi dari congnitive-behavioral akan tetapi pada DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien; antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat
Schema therapy
Schema therapy merupakan pendekatan didasarkan pada perilaku-kognitif dan gestalt. Fokus terapi ini pada aspek emosi, kepribadian dan bagaimana individu bereaksi dengan lingkungan. Dalam treatment ini menitikberatkan pada hubungan antara terapis dan klien (pendampingan; reparenting), kehidupan sehari-hari klien diluar terapi, dan pengalaman trauma masa kecil.
Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT) adalah jenis terapi yang sangat luas penggunaannya untuk treatment gangguan mental, namun dalam penyembuhan gangguan BPD terapi ini dianggap kurang efektif. Kesulitan ditemui ketika pengembangan hubungan interpersonal bersamaan dengan treatment yang diberikan, oleh karenanya CBT juga mengadopsi schema therapy.
Family therapy
Terapi keluarga sangat membantu untuk mengurangi konflik dan stres yang dapat memperburuk kondisi mental individu dengan BPD. Terapi keluarga melatih anggota keluarga menghargai individu BPD, meningkatkan komunikasi dan penyelesaian masalah secara bersama-sama dan saling mendukung antar pasangannya.
Transference-focused psychotherapy
Transference-focused psychotherapy (TFP) merupakan bentuk dari terapi psikoanalisa yang dikembangkan oleh Otto Kernberg. Tidak seperti psikoanalisa yang dianggap sudah ketinggalan jaman, terapis dalam TFP berperan aktif secara bersama-sama denga klien dalam setiap sesi treatment. Terapis berusaha menggali dan mengklarifikasi aspek-aspek dalam persahabatan yang sesuai dengan kebutuhan klien.
Mentalization based treatment
Terapi Mentalization based treatment (MBT) merupakan bentuk regulasi kembali mental yang dianggap telah terganggu setelah mengalami pelbagai permasalahan di masa kanak-kanak. Fokus dalam terapi ini adalah mengembangkan diri pasien secara mandiri untuk mengatur cara berpikir berdasarkan teori-teori psikodinamika. Dalam terapi ini diusahakan pasien tidak menghabiskan waktunya begitu lama di rumah sakit, pengurangan pemakaian obat medis, dan menghilangkan hasrat-hasrat negatif seperti keinginan untuk bunuh diri.
Gangguan Kepribadian Narsisistik
Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya sebagai orang penting dan dikagumi oleh banyak orang sebagai bagian dari kebutuhannya. Penderita gangguan kepribadian narsisitik merasa dirinya lebih hebat dari orang lain (superioritas) dan sangat sulit menghargai perasaan orang lain.
Penderita gangguan kepribadian narsisitik terlihat seakan-akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan tetapi sebenarnya ia memiliki self esteem yang rendah, mereka sangat takut dikritik yang ditujukkan kepada dirinya.
Gangguan kepribadian narsisitik merupakan salah satu bentuk dari gangguan kepribadian dimana dalam suatu kondisi tertentu individu kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain atau lingkungan tempat tinggalnya.
Gangguan narsisistik muncul dalam pelbagai spektrum yang berbeda pada tiap-tiap individu, pada bentuk yang ekstrim gangguan ini disebut dengan narcissistic personality disorder atau gangguan kepribadian narsisistik (NPD), penderita gangguan NPD yakin bahwa ia sebagai orang terkenal, istimewa atau unik di kalangannya. Akibatnya, dengan ada kepercayaan tersebut, individu secara tidak disadari "berjaga" dan waspada secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhannya itu (untuk dihargai, dijunjung, istimewa)
Individu dengan gangguan tersebut secara pasti akan ditolak oleh lingkungannya berada, dihina atau dikritik. Penderita NPD merasakan itu adalah sebagai ancaman terhadapnya dan bereaksi dengan cara-cara meremehkan, kasar atau balik membantah terhadap kritik yang dituju kepada dirinya. Banyak individu yang mengidap NPD kemudian melakukan penarikan diri terhadap lingkungan sosialnya
SIMTOM
Penderita gangguan kepribadian narsisitik berawal sejak usia dewasa awal dan nyata dalam pelbagai konteks dengan ciri; kebesaran diri, kebutuhan untuk dikagumi, fantasi tinggi, kurang mampu dalam berempati yang bersifat pervasif.
Diagnosa gangguan kepribadian narsisistik bila simtom-simtom yang ada dibawah ini terdapat setidaknya 5 ciri dalam diri individu;
1) Merasa dirinya lebih baik dari orang lain
2) Fantasi tinggi dalam hal kekuatan, sukses, atraktif, kecantikan, brillian (the cerebral narcissist) dan cinta ideal
3) Melebih-lebihan prestasi atau bakat yang dimiliki
4) Menyukai pujian atau rasa kagum dari orang lain sebagai suatu kebutuhan
5) Merasa dirinya sebagai orang penting (istimewa)
6) Sulit beradaptasi menyangkut emosi orang lain
7) Mengharapkan orang lain menggunakan ide dan rencananya
8) Rasa cemburu (iri) terhadap orang lain
9) Suka mengambil keuntungan dari orang lain
10) Merasa orang lain selalu iri dengan dirinya
11) Sombong dan menunjukkan dirinya arogan
12) Memiliki harga diri yang rendah
13) Kesulitan dalam menjaga sebuah hubungan persahabatan
14) Mudah kecewa dan terjebak dalam depresi
15) Fokus terhadap pikiran-pikirannya sendiri dan kesulitan menunjukkan emosi-emosinya
FAKTOR PENYEBAB
Penyebab utama dari gangguan kepribadian narsisitik ini tidak diketahui secara pasti. Beberapa individu yang diteliti menunjukkan bahwa gangguan kepribadian tersebut mempunyai hubungan yang erat kegagalan pada fase-fase (perkembangan) kanak-kanak seperti anak yang dimanja secara berlebihan, harapan atau tuntutan orangtua yang terlalu tinggi, penolakan dan kekerasan. Faktor penyebab lain diperkirakan dari faktor genetik atau psikobiologi yang berhubungan dengan fungsi otak, perilaku dan cara berpikir.
Beberapa kemungkinan lain sebagai faktor penyebab pada masa anak-anak;
1) Sensitifitas pada masa kelahiran
2) Ungkapan kasih sayang dari orangtua yang tidak dapat diduga (tidak tepat)
3) Kekerasan emosi pada masa kanak-kanak
4) Pujian yang berlebihan yang tidak seimbang dengan kenyataan
5) Ketidakseimbangan antara pujian dan hukuman yang diperoleh
6) Mencontoh dan belajar perilaku manipulatif pada orangtuanya
7) Berusaha mendapatkan pujian dari orang dewasa dengan perilaku tertentu
8) Selalu mengikuti orangtua dan penilaian berlebihan oleh orangtua
FAKTOR RESIKO
Bila gangguan kepribadian narsisistik tidak segera diobati, beberapa permasalahan yang dapat terjadi akibat gangguan kepribadian tersebut adalah;
> Penyalahgunaan alkohol
> Depresi
> Keinginan untuk bunuh diri
> Gangguan makan terutama anorexia nervosa
> Kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain
> Pelbagai permasalahan yng muncul di sekolah atau tempat kerja
TREATMENT
Treatment utama untuk penyembuhan gangguan kepribadian narsisistik berfokus pada psikoterapi, secara medis tidak ada jenis obat sepesifik untuk pengobatan gangguan ini. Dokter akan menangani gangguan-gangguan lain bila muncul pada individu secara terpisah dengan disertai simtom-simtom yang ada seperti kecemasan atau depresi.
Pengobatan penderita gangguan keperibadian narsisistik membutuhkan waktu yang sangat lama, penyembuhan cepat hanya difokuskan pada penyembuhan gangguan mood, pelatihan dan peningkatan harga diri. Dalam psikoterapi diharapkan individu dapat menerima dirinya sendiri dan cara pandang terhadap dirinya sesuai dengan realitas (a realistic self-image), disamping itu juga diharapkan individu dapat menyesuaikan diri dan menjalin hubungan dan menghargai orang lain (intimacy), mengerti mengenai perasaan-perasaan dalam diri dan orang lain.
Beberapa terapi yang digunakan;
1) Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif
2) Family therapy, dalam terapi ini anggota keluarga dilibatkan secara keseluruhan dalam setiap sessi terapi. Setiap anggota keluarga dilatih untuk mengungkapkan masalah, komunikasi dan pemecahan masalah untuk membantu individu dalam menjalin hubungan intra dan interpersonal.
3) Group therapy, individu berkumpul dengan sekelompok orang yang mempunyai permasalahan yang sama, dalam terapi ini dilatih untuk saling mendengarkan orang lain, belajar mengenal perasaan sendiri dan saling memberi dukung terhadap anggota yang lain
Penderita gangguan kepribadian narsisitik terlihat seakan-akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan tetapi sebenarnya ia memiliki self esteem yang rendah, mereka sangat takut dikritik yang ditujukkan kepada dirinya.
Gangguan kepribadian narsisitik merupakan salah satu bentuk dari gangguan kepribadian dimana dalam suatu kondisi tertentu individu kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain atau lingkungan tempat tinggalnya.
Gangguan narsisistik muncul dalam pelbagai spektrum yang berbeda pada tiap-tiap individu, pada bentuk yang ekstrim gangguan ini disebut dengan narcissistic personality disorder atau gangguan kepribadian narsisistik (NPD), penderita gangguan NPD yakin bahwa ia sebagai orang terkenal, istimewa atau unik di kalangannya. Akibatnya, dengan ada kepercayaan tersebut, individu secara tidak disadari "berjaga" dan waspada secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhannya itu (untuk dihargai, dijunjung, istimewa)
Individu dengan gangguan tersebut secara pasti akan ditolak oleh lingkungannya berada, dihina atau dikritik. Penderita NPD merasakan itu adalah sebagai ancaman terhadapnya dan bereaksi dengan cara-cara meremehkan, kasar atau balik membantah terhadap kritik yang dituju kepada dirinya. Banyak individu yang mengidap NPD kemudian melakukan penarikan diri terhadap lingkungan sosialnya
SIMTOM
Penderita gangguan kepribadian narsisitik berawal sejak usia dewasa awal dan nyata dalam pelbagai konteks dengan ciri; kebesaran diri, kebutuhan untuk dikagumi, fantasi tinggi, kurang mampu dalam berempati yang bersifat pervasif.
Diagnosa gangguan kepribadian narsisistik bila simtom-simtom yang ada dibawah ini terdapat setidaknya 5 ciri dalam diri individu;
1) Merasa dirinya lebih baik dari orang lain
2) Fantasi tinggi dalam hal kekuatan, sukses, atraktif, kecantikan, brillian (the cerebral narcissist) dan cinta ideal
3) Melebih-lebihan prestasi atau bakat yang dimiliki
4) Menyukai pujian atau rasa kagum dari orang lain sebagai suatu kebutuhan
5) Merasa dirinya sebagai orang penting (istimewa)
6) Sulit beradaptasi menyangkut emosi orang lain
7) Mengharapkan orang lain menggunakan ide dan rencananya
8) Rasa cemburu (iri) terhadap orang lain
9) Suka mengambil keuntungan dari orang lain
10) Merasa orang lain selalu iri dengan dirinya
11) Sombong dan menunjukkan dirinya arogan
12) Memiliki harga diri yang rendah
13) Kesulitan dalam menjaga sebuah hubungan persahabatan
14) Mudah kecewa dan terjebak dalam depresi
15) Fokus terhadap pikiran-pikirannya sendiri dan kesulitan menunjukkan emosi-emosinya
FAKTOR PENYEBAB
Penyebab utama dari gangguan kepribadian narsisitik ini tidak diketahui secara pasti. Beberapa individu yang diteliti menunjukkan bahwa gangguan kepribadian tersebut mempunyai hubungan yang erat kegagalan pada fase-fase (perkembangan) kanak-kanak seperti anak yang dimanja secara berlebihan, harapan atau tuntutan orangtua yang terlalu tinggi, penolakan dan kekerasan. Faktor penyebab lain diperkirakan dari faktor genetik atau psikobiologi yang berhubungan dengan fungsi otak, perilaku dan cara berpikir.
Beberapa kemungkinan lain sebagai faktor penyebab pada masa anak-anak;
1) Sensitifitas pada masa kelahiran
2) Ungkapan kasih sayang dari orangtua yang tidak dapat diduga (tidak tepat)
3) Kekerasan emosi pada masa kanak-kanak
4) Pujian yang berlebihan yang tidak seimbang dengan kenyataan
5) Ketidakseimbangan antara pujian dan hukuman yang diperoleh
6) Mencontoh dan belajar perilaku manipulatif pada orangtuanya
7) Berusaha mendapatkan pujian dari orang dewasa dengan perilaku tertentu
8) Selalu mengikuti orangtua dan penilaian berlebihan oleh orangtua
FAKTOR RESIKO
Bila gangguan kepribadian narsisistik tidak segera diobati, beberapa permasalahan yang dapat terjadi akibat gangguan kepribadian tersebut adalah;
> Penyalahgunaan alkohol
> Depresi
> Keinginan untuk bunuh diri
> Gangguan makan terutama anorexia nervosa
> Kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain
> Pelbagai permasalahan yng muncul di sekolah atau tempat kerja
TREATMENT
Treatment utama untuk penyembuhan gangguan kepribadian narsisistik berfokus pada psikoterapi, secara medis tidak ada jenis obat sepesifik untuk pengobatan gangguan ini. Dokter akan menangani gangguan-gangguan lain bila muncul pada individu secara terpisah dengan disertai simtom-simtom yang ada seperti kecemasan atau depresi.
Pengobatan penderita gangguan keperibadian narsisistik membutuhkan waktu yang sangat lama, penyembuhan cepat hanya difokuskan pada penyembuhan gangguan mood, pelatihan dan peningkatan harga diri. Dalam psikoterapi diharapkan individu dapat menerima dirinya sendiri dan cara pandang terhadap dirinya sesuai dengan realitas (a realistic self-image), disamping itu juga diharapkan individu dapat menyesuaikan diri dan menjalin hubungan dan menghargai orang lain (intimacy), mengerti mengenai perasaan-perasaan dalam diri dan orang lain.
Beberapa terapi yang digunakan;
1) Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif
2) Family therapy, dalam terapi ini anggota keluarga dilibatkan secara keseluruhan dalam setiap sessi terapi. Setiap anggota keluarga dilatih untuk mengungkapkan masalah, komunikasi dan pemecahan masalah untuk membantu individu dalam menjalin hubungan intra dan interpersonal.
3) Group therapy, individu berkumpul dengan sekelompok orang yang mempunyai permasalahan yang sama, dalam terapi ini dilatih untuk saling mendengarkan orang lain, belajar mengenal perasaan sendiri dan saling memberi dukung terhadap anggota yang lain
Gangguan Kepribadian Histrionik
Gangguan kepribadian histrionik adalah gangguan kepribadian dengan karakter emosi yang meluap-luap termasuk keinginan berlebihan untuk mendapatkan pujian, rayuan secara tidak tepat. Gangguan ini dimulai pada masa kanak-kanak hingga menjelang memasuki remaja yang terus berlanjut menjadi bentuk gangguan keperibadian dikemudian harinya.
Kehidupan sehari-hari individu dengan gangguan histrionik (HPD) digambarkan sebagai kehidupan yang dramatis, memiliki antusias berlebihan dan terkesan genit. Kadang perilaku yang dimunculkan dapat membangkitkan hasrat seksual orang lain, ekspresi emosi berlebihan (termasuk dalam pakaian) dan mudah dipengaruhi orang lain.
Individu dengan gangguan kepribadian histrionik selalu ingin mencari perhatian dari orang lain, tujuannya adalah untuk mendapatkan pengukuhan dirinya. Individu ini akan selalu menanyakan pendapat orang lain mengenai hal-hal yang menyangkut dirinya, dimulai cara pakaian, dandanan, hingga masalah pribadi lainnya.
Potensi gangguan kepribadian histrionik pada wanita dan pria adalah sama.
Wanita dengan HPD berorientasi kedalam dirinya sendiri, berperilaku menurut suka hatinya dan sangat tergantung pada orang lain. Emosi yang labil dan terikat dengan hubungan yang tidak dewasa, —kekanak-kanakan.
Wanita dengan gangguan kepribadian histrionik mempunyai harapan-harapan yang tidak realistis, memiliki fantasi berlebihan dengan orang-orang yang ia kenal. Ekspresi emosional yang dangkal ketika ia menghadapi distres dan kesulitan untuk memahami orang lain membuat dirinya sulit dalam mempertahankan hubungan dengan pasangannya. Banyak menuntut, harapan yang tinggi dan disertai luapan amarah yang meledak-ledak membuat pasangannya lebih memilih untuk menjauh setelah mengenalnya lebih dalam. Beberapa wanita HPD yang cenderung memiliki gangguan kepribadian borderline juga melukai tubuhnya atau berpura-pura untuk bunuh diri sebagai cara untuk menarik pasangannya atau orang lain untuk mendapatkan perhatian yang lebih.
Pada pria, pelbagai permasalahan yang dihadapi dapat berupa krisis identitas diri, impulsif dan gangguan berhubungan dengan orang lain. Kecenderungan antisosial, tidak mampu bersikap dewasa, dramatis (walaupun sebagian dari mereka sanggup menahannya) adalah masalah yang sering dihadapi oleh pria dengan gangguan HPD. Selain itu, pria sangat introspektif dan merasa bersalah terhadap dirinya sendiri bila ia tidak mampu untuk dekat dengan seseorang atau orang lain.
Pria HPD dengan tendensi antisosial melakukan isolasi diri dan menghindari hubungan sosial untuk beberapa hari bahkan beberapa tahun ketika ia merasakan ketidaknyamanan atau bila terjadi kesalahpahaman yang membuat dirinya terusik.
SIMTOM
1) Tidak merasa nyaman dalam siatuasi dimana ia tidak menjadi pusat perhatian. Secara konstan ia akan berusaha mencari perhatian dari orang lain (self-centeredness)
2) Bertingkah laku tertentu untuk menjadi pusat perhatian dengan perilaku yang dapat membangkitkan hasrat seksual orang lain
3) Berpura-pura dan dapat mengubah ekspresi emosi dengan cepat dengan tujuan untuk memberikan perhatian pada orang lain
4) Konsisten menggunakan segala sesuatu yang berkenaan dengan fisik (dandanan) yang mencolok untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
5) Berbicara secara spontan dengan gaya bahasa tertentu untuk memberi kesan
6) Suka mendramatisir suatu keadaan secara berlebih-lebihan atau bahkan berbohong hanya untuk mendapatkan atau menyakinkan orang lain.
7) Sensitif terhadap kritikan dan penolakan
8) Mudah frustrasi dan tidak mudah puas
9) Pendapat-pendapatnya mudah dipengaruhi oleh orang lain, akan tetapi ia sulit untuk menjelaskan secara detail dari pendapatnya itu.
10) Suka mengambil keputusan secara terburu-buru
11) Berpura-pura atau mencoba bunuh diri untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
12) Mereka mempercayai bahwa hubungan lebih akrab dikarenakan adanya dirinya
Individu dengan gangguan keperibadian histrionik dapat berfungsi secara sosial dengan baik, bahkan pada level yang tinggi, ia dapat sukses dalam pekerjaannya. Mereka mempunyai kemampuan sosial yang baik, akan tetapi kecenderungan perilaku tersebut adalah manipulatif dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab utama gangguan ini tidak diketahui secara pasti, namun diduga pengalaman masa kanak-kanak dan faktor genetik keduanya mempunyai pengaruh kemunculan gangguan kepribadian ini. Gangguan kepribadian histrionik lebih banyak pada wanita dibandingkan pria, kebanyakan gangguan kepribadian histrionik pada pria, ―dengan gejala-gejala yang sama lebih cenderung didiagnosa sebagai gangguan kepribadian antisosial. Kemungkinan hal ini terjadi karena pada pria histrionik cenderung untuk menarik dari lingkungan sosial dibandingkan wanita histrionik.
Psikoanalisa menduga gangguan ini disebabkan oleh sikap otoriter sang ayah ketika masa kanak-kanak individu. Kebiasaan menggoda dan memuji anak tidak tepat juga dapat menimbulkan gangguan kepribadian ini dikemudian hari.
TREATMENT
Tidak ada obat secara langsung yang dapat menyembuhkan gangguan kepribadian ini, dokter akan memberikan jenis obat-obatan bila individu yang bersangkutan mengalami gangguan kecemasan atau gangguan mood seperti depresi.
Dalam psikoterapi, terapis harus dapat memlih terapi yang tepat untuk gangguan kepribadian histrionik, perlu diperhatikan bahwa gangguan HPD tidak cocok dilakukan terapi kelompok atau group therapy. Hal ini dikarenakan individu dengan gangguan HPD yang cenderung untuk mencari perhatian orang lain dapat menganggu jalannya terapi atau anggota kelompoknya.
Dialectical behavioral therapy
Target yang ingin dicapai dalam terapi ini adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (ketrampilan sosial), adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat.
Family therapy
Terapi keluarga melatih anggota keluarga menghargai individu, meningkatkan komunikasi dan penyelesaian masalah secara bersama-sama dan saling mendukung. Anggota keluarga akan dilatih terlebih dahulu untuk bersikap dan berperilaku yang mendukung penyembuhan individu. Terapi ini dianggap lebih baik karena proses terapi berlangsung setiap saat. Terapi keluarga juga dapat dilakukan oleh pasangan individu (couples therapy)
Cognitive therapy
Terapi kognitif dirancang untuk membantu individu mengenal dan mengubah penyimpangan-penyimpangan cara berpikir yang muncul dari perasaan dan perilaku dari pelbagai masalah yang sedang dihadapi.
Kehidupan sehari-hari individu dengan gangguan histrionik (HPD) digambarkan sebagai kehidupan yang dramatis, memiliki antusias berlebihan dan terkesan genit. Kadang perilaku yang dimunculkan dapat membangkitkan hasrat seksual orang lain, ekspresi emosi berlebihan (termasuk dalam pakaian) dan mudah dipengaruhi orang lain.
Individu dengan gangguan kepribadian histrionik selalu ingin mencari perhatian dari orang lain, tujuannya adalah untuk mendapatkan pengukuhan dirinya. Individu ini akan selalu menanyakan pendapat orang lain mengenai hal-hal yang menyangkut dirinya, dimulai cara pakaian, dandanan, hingga masalah pribadi lainnya.
Potensi gangguan kepribadian histrionik pada wanita dan pria adalah sama.
Wanita dengan HPD berorientasi kedalam dirinya sendiri, berperilaku menurut suka hatinya dan sangat tergantung pada orang lain. Emosi yang labil dan terikat dengan hubungan yang tidak dewasa, —kekanak-kanakan.
Wanita dengan gangguan kepribadian histrionik mempunyai harapan-harapan yang tidak realistis, memiliki fantasi berlebihan dengan orang-orang yang ia kenal. Ekspresi emosional yang dangkal ketika ia menghadapi distres dan kesulitan untuk memahami orang lain membuat dirinya sulit dalam mempertahankan hubungan dengan pasangannya. Banyak menuntut, harapan yang tinggi dan disertai luapan amarah yang meledak-ledak membuat pasangannya lebih memilih untuk menjauh setelah mengenalnya lebih dalam. Beberapa wanita HPD yang cenderung memiliki gangguan kepribadian borderline juga melukai tubuhnya atau berpura-pura untuk bunuh diri sebagai cara untuk menarik pasangannya atau orang lain untuk mendapatkan perhatian yang lebih.
Pada pria, pelbagai permasalahan yang dihadapi dapat berupa krisis identitas diri, impulsif dan gangguan berhubungan dengan orang lain. Kecenderungan antisosial, tidak mampu bersikap dewasa, dramatis (walaupun sebagian dari mereka sanggup menahannya) adalah masalah yang sering dihadapi oleh pria dengan gangguan HPD. Selain itu, pria sangat introspektif dan merasa bersalah terhadap dirinya sendiri bila ia tidak mampu untuk dekat dengan seseorang atau orang lain.
Pria HPD dengan tendensi antisosial melakukan isolasi diri dan menghindari hubungan sosial untuk beberapa hari bahkan beberapa tahun ketika ia merasakan ketidaknyamanan atau bila terjadi kesalahpahaman yang membuat dirinya terusik.
SIMTOM
1) Tidak merasa nyaman dalam siatuasi dimana ia tidak menjadi pusat perhatian. Secara konstan ia akan berusaha mencari perhatian dari orang lain (self-centeredness)
2) Bertingkah laku tertentu untuk menjadi pusat perhatian dengan perilaku yang dapat membangkitkan hasrat seksual orang lain
3) Berpura-pura dan dapat mengubah ekspresi emosi dengan cepat dengan tujuan untuk memberikan perhatian pada orang lain
4) Konsisten menggunakan segala sesuatu yang berkenaan dengan fisik (dandanan) yang mencolok untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
5) Berbicara secara spontan dengan gaya bahasa tertentu untuk memberi kesan
6) Suka mendramatisir suatu keadaan secara berlebih-lebihan atau bahkan berbohong hanya untuk mendapatkan atau menyakinkan orang lain.
7) Sensitif terhadap kritikan dan penolakan
8) Mudah frustrasi dan tidak mudah puas
9) Pendapat-pendapatnya mudah dipengaruhi oleh orang lain, akan tetapi ia sulit untuk menjelaskan secara detail dari pendapatnya itu.
10) Suka mengambil keputusan secara terburu-buru
11) Berpura-pura atau mencoba bunuh diri untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
12) Mereka mempercayai bahwa hubungan lebih akrab dikarenakan adanya dirinya
Individu dengan gangguan keperibadian histrionik dapat berfungsi secara sosial dengan baik, bahkan pada level yang tinggi, ia dapat sukses dalam pekerjaannya. Mereka mempunyai kemampuan sosial yang baik, akan tetapi kecenderungan perilaku tersebut adalah manipulatif dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab utama gangguan ini tidak diketahui secara pasti, namun diduga pengalaman masa kanak-kanak dan faktor genetik keduanya mempunyai pengaruh kemunculan gangguan kepribadian ini. Gangguan kepribadian histrionik lebih banyak pada wanita dibandingkan pria, kebanyakan gangguan kepribadian histrionik pada pria, ―dengan gejala-gejala yang sama lebih cenderung didiagnosa sebagai gangguan kepribadian antisosial. Kemungkinan hal ini terjadi karena pada pria histrionik cenderung untuk menarik dari lingkungan sosial dibandingkan wanita histrionik.
Psikoanalisa menduga gangguan ini disebabkan oleh sikap otoriter sang ayah ketika masa kanak-kanak individu. Kebiasaan menggoda dan memuji anak tidak tepat juga dapat menimbulkan gangguan kepribadian ini dikemudian hari.
TREATMENT
Tidak ada obat secara langsung yang dapat menyembuhkan gangguan kepribadian ini, dokter akan memberikan jenis obat-obatan bila individu yang bersangkutan mengalami gangguan kecemasan atau gangguan mood seperti depresi.
Dalam psikoterapi, terapis harus dapat memlih terapi yang tepat untuk gangguan kepribadian histrionik, perlu diperhatikan bahwa gangguan HPD tidak cocok dilakukan terapi kelompok atau group therapy. Hal ini dikarenakan individu dengan gangguan HPD yang cenderung untuk mencari perhatian orang lain dapat menganggu jalannya terapi atau anggota kelompoknya.
Dialectical behavioral therapy
Target yang ingin dicapai dalam terapi ini adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (ketrampilan sosial), adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat.
Family therapy
Terapi keluarga melatih anggota keluarga menghargai individu, meningkatkan komunikasi dan penyelesaian masalah secara bersama-sama dan saling mendukung. Anggota keluarga akan dilatih terlebih dahulu untuk bersikap dan berperilaku yang mendukung penyembuhan individu. Terapi ini dianggap lebih baik karena proses terapi berlangsung setiap saat. Terapi keluarga juga dapat dilakukan oleh pasangan individu (couples therapy)
Cognitive therapy
Terapi kognitif dirancang untuk membantu individu mengenal dan mengubah penyimpangan-penyimpangan cara berpikir yang muncul dari perasaan dan perilaku dari pelbagai masalah yang sedang dihadapi.
Gangguan Kepribadian Paranoid
Gangguan kepribadian paranoid (paranoid personality disorder; PPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu tidak dapat mempercayai dan curiga terhadap orang lain secara berlebihan. Dikatakan sebagai bentuk gangguan bila perilaku tersebut sifatnya menetap, mengganggu dan membuat tertekan (distressing). Akan tetapi, perilaku ini tidak disebut sebagai bentuk gangguan kepribadian bila kemunculan perilaku tersebut disebabkan oleh skizofrenia, gangguan mood (seperti depresi berat) dengan gejala psikotik, atau gangguan psikotik lainnya (faktor neurologi), atau sebab-sebab yang diakibatkan oleh kondisi medis.
Gangguan kepribadian paranoid merupakan karakter paranoia yang menetap, gangguan kepribadian berupa gangguan berpikir, perilaku maladaptif, dan tingkah laku ―muncul menjelang memasuki masa awal dewasa, yang berdampak pada kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, pekerjaan dan fungsi-fungsi sosial lainnya.
Individu dengan gangguan kepribadian paranoid sulit percaya dan curiga berlebihan ketika berinteraksi dengan orang lain sehingga individu PPD merasa takut untuk dekat dengan siapa pun, mencurigai orang asing meskipun orang itu tidak tepat untuk dicurigai.
Individu PPD mempunyai teman yang sedikit, sulit mempercayai orang lain membuat individu ini tidak dapat diajak kerjasama dalam sebuah tim. Namun demikian, bukan berarti gangguan kepribadian paranoid tidak dapat menikah. Kecemburuan dan keinginan untuk mengontrol pasangannya menjadi bagian patologi dalam hubungan dengan pasangannya.
Hampir setiap saat individu PPD kesulitan untuk bersikap tenang untuk tidak mencurigai orang lain, kadang mereka sengaja mencari-cari orang untuk menjadi tersangka dan patut untuk dicurigai. Rasa takut yang muncul justru membuat individu tersebut tidak dapat berbuat apa-apa (gugup) ketika orang yang dicurigainya berada dekat dengannya. Seringnya individu PPD melakukan penolakan baik dengan konfrontasi, agresif atau perselisihan membuat mereka memilih tidak bersahabat dengan orang itu dan memilih diri untuk menyendiri.
SIMTOM
Beberapa tanda-tanda pada gangguan kepribadian paranoid, antara lain :
• Kecurigaan yang berulang tanpa dasar atau bukti yang kuat, terhadap orang lain bahwa orang itu akan mengeksploitasi, bersikap jahat atau menipu dirinya.
• Sulit mempercayai orang lain dan tidak dapat bersikap loyal terhadap orang atau kerjasama tim
• Enggan berbagi pelbagai informasi kepada orang lain disebabkan rasa takut yang tidak beralasan bahwa sewaktu-waktu orang lain akan bersikap jahat kepadanya
• Mengartikan kata-kata atau teguran yang ramah sebagai ancaman atau merendahkan dirinya
• Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, meskipun pada masalah-masalah kecil. Sulit untuk memaafkan orang lain yang pernah menganggu, melukai, menyakiti atau mengabaikan dirinya.
• Ketika bersinggungan dengan karakter atau reputasinya oleh orang lain, ia akan segera bereaksi dengan amarah atau menyerang balik orang itu (dengan kekerasaan fisik)
• Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual dari pasangannya.
FAKTOR PENYEBAB
Penyebab utama munculnya gangguan kepribadian paranoid tidak diketahu secara pasti, namun diperkirakan faktor genetika mempunyai peran terhadap kemunculannya gangguan tersebut, misalnya anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia. Gangguan kepribadian paranoid dapat juga muncul dari pengalaman masa kanak-kanak yang tumbuh dari keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan ancaman. Perilaku orangtua dengan kesehariannya yang kasar, berantakan, merendahkan diri anak-anaknya, juga mempengaruhi pembentukan karakteristik gangguan ini pada anak dikemudian hari.
TREATMENT
Medikasi
Sama halnya dengan gangguan kepribadian lainnya, tidak ada obat medis yang dapat menyembuhkan secara langsung PPD. Penggunaan obat-obatan diberikan bila individu mengalami kecemasan berupa diazepam (dengan batasan waktu tetentu saja), penggunaan thioridazine dan haloperidol (anti psikotik) diberikan bila individu PPD untuk mengurangi agitasi dan delusi pada pasien.
Psikoterapi
Kesulitan yang dihadapi oleh terapist pada gangguan ini adalah penderita tidak menyadari adanya gangguan dalam dirinya dan merasa tidak memerlukan bantuan dari terapist. Kesulitan lain yang dihadapi terapis bahwa individu PDD sulit menerima terapis itu sendiri, kecurigaan dan tidak percaya membuat terapi sulit dilakukan.
Hal-hal lain yang harus diperhatikan terapis adalah bagaimana terapis menjaga sikap, perilaku, dan pembicaraanya, individu PDD akan meninggalkan terapi bila ia curiga, tidak menyukai terapisnya. Terapis juga harus menjaga dirinya untuk tidak melucu didepan individu PPD yang tidak memiliki sense of humor. Menjaga tidaknya konfrontasi ide-ide atau pemikiran secara langsung dengan pasien.
Terapi yang digunakan adalah Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi kelompok dalam CBT, individu akan dilatih agar mampu menyesuaikan dirinya dengan orang lain, saling menghargai dan mengenal cara berpikir orang lain secara positif dan mengontrol amarahnya sehingga individu dapat menciptakan hubungan interpersonal yang baik.
Namun demikian, individu dengan PPD kronis terapi kelompok dan keluarga tidak akan efektif dijalankan karena pada individu PPD kronis tingkat kepercayaan terhadap orang lain samasekali tidak ada
Gangguan kepribadian paranoid merupakan karakter paranoia yang menetap, gangguan kepribadian berupa gangguan berpikir, perilaku maladaptif, dan tingkah laku ―muncul menjelang memasuki masa awal dewasa, yang berdampak pada kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, pekerjaan dan fungsi-fungsi sosial lainnya.
Individu dengan gangguan kepribadian paranoid sulit percaya dan curiga berlebihan ketika berinteraksi dengan orang lain sehingga individu PPD merasa takut untuk dekat dengan siapa pun, mencurigai orang asing meskipun orang itu tidak tepat untuk dicurigai.
Individu PPD mempunyai teman yang sedikit, sulit mempercayai orang lain membuat individu ini tidak dapat diajak kerjasama dalam sebuah tim. Namun demikian, bukan berarti gangguan kepribadian paranoid tidak dapat menikah. Kecemburuan dan keinginan untuk mengontrol pasangannya menjadi bagian patologi dalam hubungan dengan pasangannya.
Hampir setiap saat individu PPD kesulitan untuk bersikap tenang untuk tidak mencurigai orang lain, kadang mereka sengaja mencari-cari orang untuk menjadi tersangka dan patut untuk dicurigai. Rasa takut yang muncul justru membuat individu tersebut tidak dapat berbuat apa-apa (gugup) ketika orang yang dicurigainya berada dekat dengannya. Seringnya individu PPD melakukan penolakan baik dengan konfrontasi, agresif atau perselisihan membuat mereka memilih tidak bersahabat dengan orang itu dan memilih diri untuk menyendiri.
SIMTOM
Beberapa tanda-tanda pada gangguan kepribadian paranoid, antara lain :
• Kecurigaan yang berulang tanpa dasar atau bukti yang kuat, terhadap orang lain bahwa orang itu akan mengeksploitasi, bersikap jahat atau menipu dirinya.
• Sulit mempercayai orang lain dan tidak dapat bersikap loyal terhadap orang atau kerjasama tim
• Enggan berbagi pelbagai informasi kepada orang lain disebabkan rasa takut yang tidak beralasan bahwa sewaktu-waktu orang lain akan bersikap jahat kepadanya
• Mengartikan kata-kata atau teguran yang ramah sebagai ancaman atau merendahkan dirinya
• Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, meskipun pada masalah-masalah kecil. Sulit untuk memaafkan orang lain yang pernah menganggu, melukai, menyakiti atau mengabaikan dirinya.
• Ketika bersinggungan dengan karakter atau reputasinya oleh orang lain, ia akan segera bereaksi dengan amarah atau menyerang balik orang itu (dengan kekerasaan fisik)
• Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual dari pasangannya.
FAKTOR PENYEBAB
Penyebab utama munculnya gangguan kepribadian paranoid tidak diketahu secara pasti, namun diperkirakan faktor genetika mempunyai peran terhadap kemunculannya gangguan tersebut, misalnya anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia. Gangguan kepribadian paranoid dapat juga muncul dari pengalaman masa kanak-kanak yang tumbuh dari keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan ancaman. Perilaku orangtua dengan kesehariannya yang kasar, berantakan, merendahkan diri anak-anaknya, juga mempengaruhi pembentukan karakteristik gangguan ini pada anak dikemudian hari.
TREATMENT
Medikasi
Sama halnya dengan gangguan kepribadian lainnya, tidak ada obat medis yang dapat menyembuhkan secara langsung PPD. Penggunaan obat-obatan diberikan bila individu mengalami kecemasan berupa diazepam (dengan batasan waktu tetentu saja), penggunaan thioridazine dan haloperidol (anti psikotik) diberikan bila individu PPD untuk mengurangi agitasi dan delusi pada pasien.
Psikoterapi
Kesulitan yang dihadapi oleh terapist pada gangguan ini adalah penderita tidak menyadari adanya gangguan dalam dirinya dan merasa tidak memerlukan bantuan dari terapist. Kesulitan lain yang dihadapi terapis bahwa individu PDD sulit menerima terapis itu sendiri, kecurigaan dan tidak percaya membuat terapi sulit dilakukan.
Hal-hal lain yang harus diperhatikan terapis adalah bagaimana terapis menjaga sikap, perilaku, dan pembicaraanya, individu PDD akan meninggalkan terapi bila ia curiga, tidak menyukai terapisnya. Terapis juga harus menjaga dirinya untuk tidak melucu didepan individu PPD yang tidak memiliki sense of humor. Menjaga tidaknya konfrontasi ide-ide atau pemikiran secara langsung dengan pasien.
Terapi yang digunakan adalah Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi kelompok dalam CBT, individu akan dilatih agar mampu menyesuaikan dirinya dengan orang lain, saling menghargai dan mengenal cara berpikir orang lain secara positif dan mengontrol amarahnya sehingga individu dapat menciptakan hubungan interpersonal yang baik.
Namun demikian, individu dengan PPD kronis terapi kelompok dan keluarga tidak akan efektif dijalankan karena pada individu PPD kronis tingkat kepercayaan terhadap orang lain samasekali tidak ada
Gangguan Kepribadian Skizotipal
Gangguan kepribadian skizotipal adalah suatu kondisi gangguan serius dimana individu hampir tidak pernah berhubungan lagi dengan orang-orang sekitarnya. Individu tersebut cenderung menutup diri untuk berinteraksi dengan orang lain, kecemasan luar biasa yang muncul ketika berhadapan dengan situasi sosial.
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal hampir selalu bermasalah dengan orang lain dan bersikap tidak ramah kepada siapapun. Kebanyakan dari individu dengan gangguan kepribadian ini hidup dalam kesendirian, hal ini disebabkan lingkungan sekitar yang mengisolasinya. Akibatnya, penyimpangan persepsi mengenai bentuk hubungan interpersonal akan terus berkembang dalam diri individu itu. Selanjutnya, ia akan menunjukkan perilaku yang aneh, respon yang tidak tepat dalam bersosialisasi dan sifat-sifat yang tidak lazim.
Kemunculan gangguan kepribadian skizotipal dimulai pada awal memasuki masa dewasa dan terus berkembang sepanjang masa hidupnya. Seperti gangguan kepribadian lainnya, gangguan kepribadian skizotipal disebabkan perilaku dan pengalaman yang tidak tepat pada masa kanak-kanak, sebagian besar dari gangguan tersebut disebabkan oleh kesulitan dalam beradaptasi dan pengalaman terhadap penanganan distres.
Gangguan kepribadian skizotipal merupakan spektrum dari gangguan kepribadian skizoid dalam taraf ringan dan pada tahap berat adalah skizofrenia. Secara biologis, beberapa ahli menyatakan bahwa ketiga gangguan ini mempunyai kesamaan genetik pada tiap individu, namun demikian belum dapat dipastikan bagaimana persamaan gen tersebut dapat menimbulkan jenis gangguan yang berbeda-beda pula.
Diantara individu yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal diantara mengalami gangguan dan kesulitan dalam memori, belajar dan perhatian (konsentrasi). Beberapa gejala kemunculan gangguan tidak diikuti gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi, beda halnya pada gangguan skizofrenia yang disertai gejala psikotik secara keseluruhan dan intens. Namun demikian, gangguan kepribadian skizotipal dapat berkembang menjadi skizofrenia.
SIMTOM
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal hampir selalu berbicara tidak teratur ketika ia hendak membicarakan suatu hal dan memandang sekelilingnya secara ekstrim. Kadang mereka juga mempercayai bahwa mereka mempunyai kekuatan supranatural, indera ke enam atau kekuatan magis lainnya yang dapat mempengaruh pikiran, perilaku dan emosi orang lain.
Kemunculan kepribadian skizotipal di masa dewasa dapat diakibatkan masa-masa sebelumnya (anak-anak) dimana individu hidup dalam kesendirian tanpa orangtua atau anggota keluarga yang mendampingi, kehidupan sosial yang penuh kecemasan juga dapat menimbulkan gangguan ini.
Beberapa simtom gangguan kepribadian skizotipal;
- Pemahaman yang tidak tepat terhadap kejadian-kejadian dimana individu beranggapan bahwa kejadian tersebut mempunyai makna tersendiri bagi dirinya atau orang lain
- Mempunyai pikiran, kepercayaan dan perilaku yang aneh, eksentrik dan bertentangan dengan norma-norma yang ada.
- Mempercayai bahwa dirinya mempunyai kekuatan spesial seperti telepati, indra keenam, dan sebagainya yan berhubungan dengan paranormal
- Pengalaman imajinasi seperti adanya ilusi terhadap tubuhnya
- Kesulitan dalam mengikuti pembicaraan atau berbicara aneh-aneh
- Adanya kecemasan dalam situasi sosial dan pikiran-pikiran paranoid, serta penilaian negatif terhadap dirinya sendiri
- Minim respon emosi dan perasaan-perasaan (afektif) dalam dirinya
- Sedikit mempunyai teman akrab
FAKTOR PENYEBAB
Seperti jenis gangguan kepribadian lainnya, kemunculan gangguan kepribadian skizotipal dimulai pada awal kanak-kanak, berkisar antara tahun pertama dan kedua masa perkembangan. Kurangnya perhatian terutama pengenalan emosi, meskipun anak itu tumbuh secara sehat. Kurangnya stimulasi sosial dari orangtua anak akan belajar menghindari dengan sendirinya dan tidak mencari kesenangan diluar lingkungan rumahnya.
Pada masa perkembangan, anak akan melewati beberapa tahap-tahap kesiapan sosial dan belajar menempatkan ekspresi emosi secara tepat (interaksi interpersonal) dengan orang lain. Anak yang mengalami gangguan skizotipal akan mengalami hambatan dalam bersosialisasi, mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang tidak logis, tidak dapat melepaskan diri atau berpikir hal-hal yang berkenaan dengan magis, dan bahkan paranoid. Perilaku nyata nampak pada sikap anak yang membentengi dirinya dari rasa curiga ketika digoda (diganggu) atau ketika mendapatkan perlakuan tidak adil/kasar.
Beberapa ahli memperkirakan anak-anak rentan (child abusive), anak yang mengalami penolakan diri dari lingkungan sekitar, atau stres yang mengakibatkan disfungsi otak tumbuh mengarah pada kemunculan gejala gangguan skizotipal. Faktor genetik dan lingkungan ikut membantu berkembangnya gangguan ini dikemudian hari.
Keluarga, faktor keturunan keluarga (orangtua) yang memiliki gejala skizofrenia dapat menjadi suatu kondisi adanya gangguan skizotipal pada anak, faktor-faktor dalam keluarga lainnya yang memberi kontribusi gangguan kepribadian ini adalah kekerasan dan penolakan terhadap anak.
TREATMENT
Medikasi
Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan gangguan kepribadian ini, dokter menganjurkan obat antidepressant atau antipsikotik bila individu tersebut juga mengalami gangguan kecemasan, depresi atau gangguan mood lainnya. Obat risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa) diberikan bila individu mengalami penyimpangan (gangguan) dalam berpikir.
Psikoterapi
Behavioral therapy
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal membutuhkan kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, ia membutuhkan teknik-teknik baru untuk melakukan pendekatan dengan orang lain. Terapis mengajarkan bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan berekspresi secara tepat. Individu juga diajarkan bagaimana mengatur suara atau berbicara ketika berhadapan dengan orang lain.
Cognitive therapy
Dalam terapi ini individu belajar untuk merespon dan dilatih untuk fokus terhadap suatu masalah dari pikiran-pikiran menganggu. Terapi ini juga melatih individu untuk memisahkan masalah-masalah sosial yang membingungkan dari pikiran-pikirannya sendiri terutama dari hal-hal yang membuat individu mengelak dari situasi interpersonal.
Family therapy
Terapi dapat efektif bila semua anggota keluarga dilibatkan, konselor atau ahli terapi dilibatkan secara langsung dalam keluarga dapat mengurangi letupan amarah dan menjaga hubungan emosional antar sesama anggota keluarga. Terapi ini juga dapat meningkatkan moral dalam keluarga.
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal hampir selalu bermasalah dengan orang lain dan bersikap tidak ramah kepada siapapun. Kebanyakan dari individu dengan gangguan kepribadian ini hidup dalam kesendirian, hal ini disebabkan lingkungan sekitar yang mengisolasinya. Akibatnya, penyimpangan persepsi mengenai bentuk hubungan interpersonal akan terus berkembang dalam diri individu itu. Selanjutnya, ia akan menunjukkan perilaku yang aneh, respon yang tidak tepat dalam bersosialisasi dan sifat-sifat yang tidak lazim.
Kemunculan gangguan kepribadian skizotipal dimulai pada awal memasuki masa dewasa dan terus berkembang sepanjang masa hidupnya. Seperti gangguan kepribadian lainnya, gangguan kepribadian skizotipal disebabkan perilaku dan pengalaman yang tidak tepat pada masa kanak-kanak, sebagian besar dari gangguan tersebut disebabkan oleh kesulitan dalam beradaptasi dan pengalaman terhadap penanganan distres.
Gangguan kepribadian skizotipal merupakan spektrum dari gangguan kepribadian skizoid dalam taraf ringan dan pada tahap berat adalah skizofrenia. Secara biologis, beberapa ahli menyatakan bahwa ketiga gangguan ini mempunyai kesamaan genetik pada tiap individu, namun demikian belum dapat dipastikan bagaimana persamaan gen tersebut dapat menimbulkan jenis gangguan yang berbeda-beda pula.
Diantara individu yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal diantara mengalami gangguan dan kesulitan dalam memori, belajar dan perhatian (konsentrasi). Beberapa gejala kemunculan gangguan tidak diikuti gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi, beda halnya pada gangguan skizofrenia yang disertai gejala psikotik secara keseluruhan dan intens. Namun demikian, gangguan kepribadian skizotipal dapat berkembang menjadi skizofrenia.
SIMTOM
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal hampir selalu berbicara tidak teratur ketika ia hendak membicarakan suatu hal dan memandang sekelilingnya secara ekstrim. Kadang mereka juga mempercayai bahwa mereka mempunyai kekuatan supranatural, indera ke enam atau kekuatan magis lainnya yang dapat mempengaruh pikiran, perilaku dan emosi orang lain.
Kemunculan kepribadian skizotipal di masa dewasa dapat diakibatkan masa-masa sebelumnya (anak-anak) dimana individu hidup dalam kesendirian tanpa orangtua atau anggota keluarga yang mendampingi, kehidupan sosial yang penuh kecemasan juga dapat menimbulkan gangguan ini.
Beberapa simtom gangguan kepribadian skizotipal;
- Pemahaman yang tidak tepat terhadap kejadian-kejadian dimana individu beranggapan bahwa kejadian tersebut mempunyai makna tersendiri bagi dirinya atau orang lain
- Mempunyai pikiran, kepercayaan dan perilaku yang aneh, eksentrik dan bertentangan dengan norma-norma yang ada.
- Mempercayai bahwa dirinya mempunyai kekuatan spesial seperti telepati, indra keenam, dan sebagainya yan berhubungan dengan paranormal
- Pengalaman imajinasi seperti adanya ilusi terhadap tubuhnya
- Kesulitan dalam mengikuti pembicaraan atau berbicara aneh-aneh
- Adanya kecemasan dalam situasi sosial dan pikiran-pikiran paranoid, serta penilaian negatif terhadap dirinya sendiri
- Minim respon emosi dan perasaan-perasaan (afektif) dalam dirinya
- Sedikit mempunyai teman akrab
FAKTOR PENYEBAB
Seperti jenis gangguan kepribadian lainnya, kemunculan gangguan kepribadian skizotipal dimulai pada awal kanak-kanak, berkisar antara tahun pertama dan kedua masa perkembangan. Kurangnya perhatian terutama pengenalan emosi, meskipun anak itu tumbuh secara sehat. Kurangnya stimulasi sosial dari orangtua anak akan belajar menghindari dengan sendirinya dan tidak mencari kesenangan diluar lingkungan rumahnya.
Pada masa perkembangan, anak akan melewati beberapa tahap-tahap kesiapan sosial dan belajar menempatkan ekspresi emosi secara tepat (interaksi interpersonal) dengan orang lain. Anak yang mengalami gangguan skizotipal akan mengalami hambatan dalam bersosialisasi, mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang tidak logis, tidak dapat melepaskan diri atau berpikir hal-hal yang berkenaan dengan magis, dan bahkan paranoid. Perilaku nyata nampak pada sikap anak yang membentengi dirinya dari rasa curiga ketika digoda (diganggu) atau ketika mendapatkan perlakuan tidak adil/kasar.
Beberapa ahli memperkirakan anak-anak rentan (child abusive), anak yang mengalami penolakan diri dari lingkungan sekitar, atau stres yang mengakibatkan disfungsi otak tumbuh mengarah pada kemunculan gejala gangguan skizotipal. Faktor genetik dan lingkungan ikut membantu berkembangnya gangguan ini dikemudian hari.
Keluarga, faktor keturunan keluarga (orangtua) yang memiliki gejala skizofrenia dapat menjadi suatu kondisi adanya gangguan skizotipal pada anak, faktor-faktor dalam keluarga lainnya yang memberi kontribusi gangguan kepribadian ini adalah kekerasan dan penolakan terhadap anak.
TREATMENT
Medikasi
Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan gangguan kepribadian ini, dokter menganjurkan obat antidepressant atau antipsikotik bila individu tersebut juga mengalami gangguan kecemasan, depresi atau gangguan mood lainnya. Obat risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa) diberikan bila individu mengalami penyimpangan (gangguan) dalam berpikir.
Psikoterapi
Behavioral therapy
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal membutuhkan kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, ia membutuhkan teknik-teknik baru untuk melakukan pendekatan dengan orang lain. Terapis mengajarkan bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan berekspresi secara tepat. Individu juga diajarkan bagaimana mengatur suara atau berbicara ketika berhadapan dengan orang lain.
Cognitive therapy
Dalam terapi ini individu belajar untuk merespon dan dilatih untuk fokus terhadap suatu masalah dari pikiran-pikiran menganggu. Terapi ini juga melatih individu untuk memisahkan masalah-masalah sosial yang membingungkan dari pikiran-pikirannya sendiri terutama dari hal-hal yang membuat individu mengelak dari situasi interpersonal.
Family therapy
Terapi dapat efektif bila semua anggota keluarga dilibatkan, konselor atau ahli terapi dilibatkan secara langsung dalam keluarga dapat mengurangi letupan amarah dan menjaga hubungan emosional antar sesama anggota keluarga. Terapi ini juga dapat meningkatkan moral dalam keluarga.
Personality Disorder (Gangguan Kepribadian)
Gangguan kepribadian merupakan suatu gangguan berat pada karakter dan kecenderungan perilaku pada individu. Gangguan tersebut melibatkan beberapa bidang kepribadian dan berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan itu dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan pengalaman hidup pada awal masa kanak-kanak.
Diagnosa terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang kontroversial dan merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam memberikan sebutan label atau pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya, individu tersebut semakin enggan untuk berobat dan melakukan isolasi diri.
Kemunculan gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada penekanan perasaan-perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami distres pada umumnya. Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir, menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial.
Beberapa perilaku tersebut menganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan atau menlanjuti hubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam mengenal perasaan-perasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya. Penderita gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar.
Problem ketergantungan pada alkohol, gangguan mood, kecemasan dan gangguan makan, melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap diri sendiri, keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi bagian dari permasalahan gangguan kepribadian.
CLUSTER
Dokter membagi 3 group secara garis besar gangguan kepribadian berdasarkan simtom utama dan jenis pengalaman individu:
(1) Cluster A; Kepribadian eksentrik
Golongan ini termasuk di dalamnya perilaku paranoid, aneh, eksentrik
- Gangguan kepribadian skizoid
- Gangguan kepribadian schizotypal
- Gangguan kepribadian paranoid
(2) Cluster B; Kepribadian dramatik
Golongan dramatisir, perilaku emosional, tidak menentu, dan perilaku antisosial
- Gangguan kepribadian histrionik
- Gangguan kepribadian narsisistik
- Gangguan kepribadian borderline
- Gangguan kepribadian antisosial
(3) Cluster C; Kepribadian dengan kecemasan
Gangguan kepribadian dengan kecemasan, ketakutan, dan perilaku tergantung.
- Gangguan kepribadian menghindar
- Gangguan kepribadian dependen
- Gangguan kepribadian obsessive-compulsive
GEJALA UMUM
Individu dengan gangguan kepribadian sarat dengan pelbagai pengalaman konflik dan ketidakstabilan dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum gangguan kepribadian berdasarkan kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum gangguan ini klasifikasikan berdasarkan;
Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari social expectation. Penyimpangan pola tersebut pada satu atau lebih;
- cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya, orang lain dan waktu
- afeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan)
- fungsi-fungsi interpersonal
- dan kontrol terhadap impuls
Gangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh pada situasi sosial.
Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress atau memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting lainnya.
Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan memuncak menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa
Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang disebabkan oleh kondisi medis seperti luka di kepala.
Catatan:
Gangguan kepribadian tidak didiagnosa pada pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, dengan pertimbangan bahwa pada usia dibawah 18 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada remaja awal, bila pun adanya simtom-simtom tertentu yang tampak, haruslah simtom tersebut menetap setidaknya 1 tahun lamanya, namun tidak semua gejala yang ada dapat didiagnosa sebagai bentuk gangguan kepribadian.
PENYEBAB
Penyebab secara pasti berkembangnya gangguan awal tidak diketahui secara pasti, akan tetapi gangguan kepribadian muncul diperkirakan merupakan kombinasi beberapa faktor yang berbeda tiap individu. Gangguan kepribadian dapat muncul dalam keluarga, faktor genetik, harapan yang tidak tercapai dan sebagainya.
Anak yang mengalami pelecehan seksual pada masa awal kanak-kanak mempunyai resiko terbentuknya gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder). Dilaporkan bahwa individu yang mengalami gangguan ini mengalami pelecehan seksual di usia kanak-kanak (rata-rata pada usia 13 tahun), disamping itu mereka juga mengalami gangguan stres pasca-traumatik (Post Traumatic Stress Disorder, PTSD). Faktor lainnya terbentuk gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan luka pada kepala pada masa kanak-kanak (soft neurological sign) yang dapat berkembang menjadi bentuk gangguan ini.
Kemunculan gangguan kepribadian schizotypal, schizoid dan paranoid dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor biologi, genetik (walaupun faktor ini sedikit kemungkinannya), riwayat pengalaman individu dalam keluarga. Gangguan-gangguan ini dapat juga disebabkan oleh turunan dari anggota keluarga yang menderita schizophrenia. Faktor hereditas juga memberikan kontribusi berkembangnya gangguan kepribadian obsessive-compulsive.
Kemunculannya gangguan kepribadian antisosial diperkirakan disebabkan oleh pengalaman trauma masa kecil yang disebabkan oleh permasalahan keluarga dengan kekerasan. Anak dengan orangtua pengguna alkohol dan anak yang pengalami penolakan dari orangtua mempunyai resiko terhadap pembentukan gangguan kepribadian antisosial.
Pendidikan yang tidak tepat dengan temperamen si anak juga dapat menimbulkan gangguan kepribadian, kondisi ini disebut dengan goodness of fit, misalnya anak yang bertemperamen cemas didik oleh orangtua yang mempunyai sifat cemas pula akan memperburuk kepribadian anak dikemudian hari.
Faktor lingkungan dan budaya juga diyakini dapat membentuk pola gangguan kepribadian, misalnya lingkungan dan budaya yang bersifat keras, tidak toleran, suka menghukum (punitif) dan agresif dapat menanamkan dasar-dasar pembentukan gangguan paranoid dan antisosial.
RESIKO GANGGUAN KEPRIBADIAN
Individu yang tidak segera melakukan pengobatan, gangguan kepribadian dapat berdampak pada;
(1) Isolasi sosial, kehilangan sahabat-sahabat terdekat yang disebabkan ketidakmampuan untuk menjalani hubungan yang sehat, rasa malu yang disebabkan putusnya hubungan dengan masyarakat
(2) Bunuh diri, melukai diri sendiri sering terjadi pada individu yang mengalami gangguan kepribadian ambang dan cluster B
(3) Ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan
(4) Depresi, kecemasan dan gangguan makan. Untuk semua cluster mempunyai resiko berkembangnya problema psikologis lainnya
(5) Perilaku berbahaya yang dapat merusak diri sendiri. Penderita gangguan kepribadian ambang berpotensi melakukan tindakan berbahaya, tanpa perhitungan seperti terlibat pada seks bebas beresiko atau terlibat dalam perjudian. Pada gangguan kepribadian dependen beresiko mengalami pelecehan seksual, emosional, atau kekerasan fisik karena individu ini hanya mengutamakan pada bertahan hubungan semata (bergantung pada orang tersebut)
(6) Kekerasan atau bahkan pembunuhan. Perilaku agresif pada gangguan kepribadian paranoid dan antisosial
(7) Tindakan kriminal. Gangguan kepribadian antisosial mempunyai resiko lebih besar melakukan tindakan kriminal. Hal ini dapat mengakibatkan diri bersangkutan dipenjara
(8) Gangguan simtom yang ada dapat menjadi lebih buruk dikemudian hari bila tidak mendapatkan perawatan secara baik
TREATMENT
Treatment untuk gangguan kepribadian merupakan kombinasi dari pengobatan dan psikoterapi;
1) Medikasi
Antidepressants
Doktor menganjurkan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), seperti fluoxetine (Prozac, Sarafem), sertraline (Zoloft), citalopram (Celexa), paroxetine (Paxil), nefazodone, dan escitalopram (Lexapro), atau jenis antidepressant lainnya venlafaxine (Effexor) untuk gangguan kepribadian yang disertai dengan kecemasan dan depresi.
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)
Jenis phenelzine (Nardil) dan tranylcypromine (Parnate).
Anticonvulsants
Jenis obat ini untuk mengurangi tingkat agresifitas dan perilaku impulsif. Jenis yang dianjurkan adalah carbamazepine (Carbatrol, Tegretol) atau asam valproik (Depakote). Selain itu juga topiramate (Topamax), jenis anticonvulsant ini dianggap lebih efektif dalam menangani permasalahan perilaku impuls yang tidak terkontrol.
Antipsychotics
Individu dengan gangguan kepribadian ambang dan schizotypal beresiko kehilangan dunia nyata, obat antipsychotic seperti risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa) dapat membantu menghentikan pikiran-pikiran yang menyimpang. Untuk gangguan perilaku kadang juga diberikan haloperidol (Haldol).
Obat-obat ini haruslah dibawah kontrol dokter secara ketat, pemakaian berlebihan akan memberikan beberapa efek samping seperti;
- Sedasi dan inhibisi psikomotorik
- Gangguan otonom (hipotensi, hidung tersumbat, gangguan irama jantung)
- Gangguan ekstrapiramidal (tremor, sindrom parkinson, akatisia)
- Gangguan endoktrin
- Tardive dyskinesia
- Sindrom neuroleptik maligna
Mood stabilizers
Jenis lithium (Eskalith, Lithobid). Obat ini memberikan ketenangan bila terjadi perubahan mood pada penderita gangguan kepribadian.
Jenis-jenis medikasi lainnya yang mungkin diberikan oleh dokter adalah alprazolam (Xanax) dan clonazepam (Klonopin)
(2) Psikoterapi
Penghalang utama dalam pemberian treatment pada individu dengan gangguan kepribadian disebabkan individu tersebut tidak terbuka bahkan kadang disertai permusuhan (marah) kepada terapis ketika pemberian terapi. Kadang juga disertai dengan penolakan atau berhenti total dalam masa pengobatan. Keberhasilan dari terapi sangat dipengaruhi oleh motivasi dan kepatuhan pasien dalam pemberian treatment yang memang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk penyembuhannya.
Psikodinamika
Pada pendekatan ini terapis akan membicarakan kondisi pasien dan beberapa hal mengenai isu-isu mengenai kesehatan mental secara profesional, Dalam psikoterapi diharapkan pasien dapat menangani pelbagai permasalahan yang dihadapi pasien, belajar hidup secara sehat, dan bagaimana bereaksi secara tepat terhadap pelbagai problem dalam kehidupan sosial. Metode pelaksanaan dapat dilakukan secara individu, kelompok atau keluarga
Cognitive-behavior therapy (CBT)
Bentuk terapi dalam CBT melibatkan pelatihan ulang terhadap pemikiran dan cara pandang terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul, termasuk di dalamanya kontrol terhadap muatan-muatan emosi dan perilaku.
Dialectical behavior therapy
Dialectical behavior therapy merupakan salah satu type dari CBT berfokus pada coping skill, dalam terapi ini individu belajar mengontrol perilaku dan emosi dengan teknik kesadaran penuh, pasien dibantu untuk mengenal pelbagai muatan emosinya tanpa perlu bereaksi (mengontrol perilakunya) Terapi ini efektif untuk penyembuhan gangguan kepribadian ambang.
Diagnosa terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang kontroversial dan merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam memberikan sebutan label atau pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya, individu tersebut semakin enggan untuk berobat dan melakukan isolasi diri.
Kemunculan gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada penekanan perasaan-perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami distres pada umumnya. Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir, menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial.
Beberapa perilaku tersebut menganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan atau menlanjuti hubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam mengenal perasaan-perasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya. Penderita gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar.
Problem ketergantungan pada alkohol, gangguan mood, kecemasan dan gangguan makan, melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap diri sendiri, keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi bagian dari permasalahan gangguan kepribadian.
CLUSTER
Dokter membagi 3 group secara garis besar gangguan kepribadian berdasarkan simtom utama dan jenis pengalaman individu:
(1) Cluster A; Kepribadian eksentrik
Golongan ini termasuk di dalamnya perilaku paranoid, aneh, eksentrik
- Gangguan kepribadian skizoid
- Gangguan kepribadian schizotypal
- Gangguan kepribadian paranoid
(2) Cluster B; Kepribadian dramatik
Golongan dramatisir, perilaku emosional, tidak menentu, dan perilaku antisosial
- Gangguan kepribadian histrionik
- Gangguan kepribadian narsisistik
- Gangguan kepribadian borderline
- Gangguan kepribadian antisosial
(3) Cluster C; Kepribadian dengan kecemasan
Gangguan kepribadian dengan kecemasan, ketakutan, dan perilaku tergantung.
- Gangguan kepribadian menghindar
- Gangguan kepribadian dependen
- Gangguan kepribadian obsessive-compulsive
GEJALA UMUM
Individu dengan gangguan kepribadian sarat dengan pelbagai pengalaman konflik dan ketidakstabilan dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum gangguan kepribadian berdasarkan kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum gangguan ini klasifikasikan berdasarkan;
Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari social expectation. Penyimpangan pola tersebut pada satu atau lebih;
- cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya, orang lain dan waktu
- afeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan)
- fungsi-fungsi interpersonal
- dan kontrol terhadap impuls
Gangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh pada situasi sosial.
Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress atau memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting lainnya.
Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan memuncak menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa
Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang disebabkan oleh kondisi medis seperti luka di kepala.
Catatan:
Gangguan kepribadian tidak didiagnosa pada pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, dengan pertimbangan bahwa pada usia dibawah 18 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada remaja awal, bila pun adanya simtom-simtom tertentu yang tampak, haruslah simtom tersebut menetap setidaknya 1 tahun lamanya, namun tidak semua gejala yang ada dapat didiagnosa sebagai bentuk gangguan kepribadian.
PENYEBAB
Penyebab secara pasti berkembangnya gangguan awal tidak diketahui secara pasti, akan tetapi gangguan kepribadian muncul diperkirakan merupakan kombinasi beberapa faktor yang berbeda tiap individu. Gangguan kepribadian dapat muncul dalam keluarga, faktor genetik, harapan yang tidak tercapai dan sebagainya.
Anak yang mengalami pelecehan seksual pada masa awal kanak-kanak mempunyai resiko terbentuknya gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder). Dilaporkan bahwa individu yang mengalami gangguan ini mengalami pelecehan seksual di usia kanak-kanak (rata-rata pada usia 13 tahun), disamping itu mereka juga mengalami gangguan stres pasca-traumatik (Post Traumatic Stress Disorder, PTSD). Faktor lainnya terbentuk gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan luka pada kepala pada masa kanak-kanak (soft neurological sign) yang dapat berkembang menjadi bentuk gangguan ini.
Kemunculan gangguan kepribadian schizotypal, schizoid dan paranoid dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor biologi, genetik (walaupun faktor ini sedikit kemungkinannya), riwayat pengalaman individu dalam keluarga. Gangguan-gangguan ini dapat juga disebabkan oleh turunan dari anggota keluarga yang menderita schizophrenia. Faktor hereditas juga memberikan kontribusi berkembangnya gangguan kepribadian obsessive-compulsive.
Kemunculannya gangguan kepribadian antisosial diperkirakan disebabkan oleh pengalaman trauma masa kecil yang disebabkan oleh permasalahan keluarga dengan kekerasan. Anak dengan orangtua pengguna alkohol dan anak yang pengalami penolakan dari orangtua mempunyai resiko terhadap pembentukan gangguan kepribadian antisosial.
Pendidikan yang tidak tepat dengan temperamen si anak juga dapat menimbulkan gangguan kepribadian, kondisi ini disebut dengan goodness of fit, misalnya anak yang bertemperamen cemas didik oleh orangtua yang mempunyai sifat cemas pula akan memperburuk kepribadian anak dikemudian hari.
Faktor lingkungan dan budaya juga diyakini dapat membentuk pola gangguan kepribadian, misalnya lingkungan dan budaya yang bersifat keras, tidak toleran, suka menghukum (punitif) dan agresif dapat menanamkan dasar-dasar pembentukan gangguan paranoid dan antisosial.
RESIKO GANGGUAN KEPRIBADIAN
Individu yang tidak segera melakukan pengobatan, gangguan kepribadian dapat berdampak pada;
(1) Isolasi sosial, kehilangan sahabat-sahabat terdekat yang disebabkan ketidakmampuan untuk menjalani hubungan yang sehat, rasa malu yang disebabkan putusnya hubungan dengan masyarakat
(2) Bunuh diri, melukai diri sendiri sering terjadi pada individu yang mengalami gangguan kepribadian ambang dan cluster B
(3) Ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan
(4) Depresi, kecemasan dan gangguan makan. Untuk semua cluster mempunyai resiko berkembangnya problema psikologis lainnya
(5) Perilaku berbahaya yang dapat merusak diri sendiri. Penderita gangguan kepribadian ambang berpotensi melakukan tindakan berbahaya, tanpa perhitungan seperti terlibat pada seks bebas beresiko atau terlibat dalam perjudian. Pada gangguan kepribadian dependen beresiko mengalami pelecehan seksual, emosional, atau kekerasan fisik karena individu ini hanya mengutamakan pada bertahan hubungan semata (bergantung pada orang tersebut)
(6) Kekerasan atau bahkan pembunuhan. Perilaku agresif pada gangguan kepribadian paranoid dan antisosial
(7) Tindakan kriminal. Gangguan kepribadian antisosial mempunyai resiko lebih besar melakukan tindakan kriminal. Hal ini dapat mengakibatkan diri bersangkutan dipenjara
(8) Gangguan simtom yang ada dapat menjadi lebih buruk dikemudian hari bila tidak mendapatkan perawatan secara baik
TREATMENT
Treatment untuk gangguan kepribadian merupakan kombinasi dari pengobatan dan psikoterapi;
1) Medikasi
Antidepressants
Doktor menganjurkan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), seperti fluoxetine (Prozac, Sarafem), sertraline (Zoloft), citalopram (Celexa), paroxetine (Paxil), nefazodone, dan escitalopram (Lexapro), atau jenis antidepressant lainnya venlafaxine (Effexor) untuk gangguan kepribadian yang disertai dengan kecemasan dan depresi.
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)
Jenis phenelzine (Nardil) dan tranylcypromine (Parnate).
Anticonvulsants
Jenis obat ini untuk mengurangi tingkat agresifitas dan perilaku impulsif. Jenis yang dianjurkan adalah carbamazepine (Carbatrol, Tegretol) atau asam valproik (Depakote). Selain itu juga topiramate (Topamax), jenis anticonvulsant ini dianggap lebih efektif dalam menangani permasalahan perilaku impuls yang tidak terkontrol.
Antipsychotics
Individu dengan gangguan kepribadian ambang dan schizotypal beresiko kehilangan dunia nyata, obat antipsychotic seperti risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa) dapat membantu menghentikan pikiran-pikiran yang menyimpang. Untuk gangguan perilaku kadang juga diberikan haloperidol (Haldol).
Obat-obat ini haruslah dibawah kontrol dokter secara ketat, pemakaian berlebihan akan memberikan beberapa efek samping seperti;
- Sedasi dan inhibisi psikomotorik
- Gangguan otonom (hipotensi, hidung tersumbat, gangguan irama jantung)
- Gangguan ekstrapiramidal (tremor, sindrom parkinson, akatisia)
- Gangguan endoktrin
- Tardive dyskinesia
- Sindrom neuroleptik maligna
Mood stabilizers
Jenis lithium (Eskalith, Lithobid). Obat ini memberikan ketenangan bila terjadi perubahan mood pada penderita gangguan kepribadian.
Jenis-jenis medikasi lainnya yang mungkin diberikan oleh dokter adalah alprazolam (Xanax) dan clonazepam (Klonopin)
(2) Psikoterapi
Penghalang utama dalam pemberian treatment pada individu dengan gangguan kepribadian disebabkan individu tersebut tidak terbuka bahkan kadang disertai permusuhan (marah) kepada terapis ketika pemberian terapi. Kadang juga disertai dengan penolakan atau berhenti total dalam masa pengobatan. Keberhasilan dari terapi sangat dipengaruhi oleh motivasi dan kepatuhan pasien dalam pemberian treatment yang memang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk penyembuhannya.
Psikodinamika
Pada pendekatan ini terapis akan membicarakan kondisi pasien dan beberapa hal mengenai isu-isu mengenai kesehatan mental secara profesional, Dalam psikoterapi diharapkan pasien dapat menangani pelbagai permasalahan yang dihadapi pasien, belajar hidup secara sehat, dan bagaimana bereaksi secara tepat terhadap pelbagai problem dalam kehidupan sosial. Metode pelaksanaan dapat dilakukan secara individu, kelompok atau keluarga
Cognitive-behavior therapy (CBT)
Bentuk terapi dalam CBT melibatkan pelatihan ulang terhadap pemikiran dan cara pandang terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul, termasuk di dalamanya kontrol terhadap muatan-muatan emosi dan perilaku.
Dialectical behavior therapy
Dialectical behavior therapy merupakan salah satu type dari CBT berfokus pada coping skill, dalam terapi ini individu belajar mengontrol perilaku dan emosi dengan teknik kesadaran penuh, pasien dibantu untuk mengenal pelbagai muatan emosinya tanpa perlu bereaksi (mengontrol perilakunya) Terapi ini efektif untuk penyembuhan gangguan kepribadian ambang.
Schizoid Personality Disorder
Gangguan kepribadian skizoid merupakan suatu karakter yang sifatnya menetap dalam diri individu yang menghindari (withdrawal) kontak dari hubungan sosial. Individu dengan gangguan kepribadian skizoid (SPD) digambarkan sebagai individu yang tidak memiliki emosi dalam merespon pelbagai situasi. Kondisi ini seperti ketidakmampuan dalam menikmati pelbagai pengalaman-pengalaman hidup dalam pelbagai situasi yang terjadi.
Individu dengan SPD dalam hubungan sosial cenderung tidak menunjukkan ekspresi emosi, ia tidak tertarik pada hal-hal tertentu yang terjadi di sekelilingnya. Bermuram dan menjauhkan diri dari yang lain sehingga ia kadang terlihat seperti menyendiri dalam keterasingan.
Meskipun demikian individu dengan gangguan kepribadian SPD yang lebih menyukai menyendiri, akan tetapi tetap menyukai kehidupan sosial, artinya individu tersebut tidak mengurung dirinya dengan menghindari orang lain semata, ia masih tetap keluar ruangan dan tidak bersembunyi ―beda halnya dengan gangguan kepribadian menghindar (Avoidant Personality Disorder; APD) [Dobbert, D. (2007) Understanding Personality Disorders: An Introduction. Greenwood Press]
Beberapa perilaku pada individu dengan gangguan SPD adalah minimnya ekspresi emosi, kebanyakan orang normal akan menganggap bahwa ia tidak tertarik dengan sesuatu hal yang sedang terjadi, kurangnya perhatian dan tidak sensitif. Individu tersebut juga kesulitan untuk menunjukkan ekspresi amarah atau permusuhan dengan orang lain.
Gangguan kepribadian ini (skizoid) tidaklah sama dengan gangguan skizofrenia (schizophrenia) walaupun ada kemiripan pada nama, skizofrenia dikategorikan sebagai gangguan psikotik. Namun demikian SPD sering disebut sebagai gangguan mental "spektrum dari skizofrenia", beberapa simtom yang ada pada SPD seperti menghindari kontak pribadi dengan orang lain, minimnya ekspresi emosi merupakan simtom yang terdapat pada skizofrenia pula. Bedanya, pada SPD tidak terjadinya penyimpangan persepsi, paranoia dan ilusi dibandingan dengan kepribadian schizotypal maupun pada gangguan psikotik episode dari skizofrenia.
Untuk bekerja, individu dengan gangguan SPD dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, kesulitan akan dialami bila individu terlibat dalam hubungan interpersonal dengan rekan kerja atau orang lain. Individu dengan gangguan SPD juga dapat menikah, namun kesulitan akan ditemui dalam penciptaan hubungan lekat (intimacy) dengan pasangannya disamping itu, individu dengan tipe ini menunjukkan ketidaktertarikan pada hubungan seksual.
SIMTOM
Individu dengan gangguan SPD sangat jarang menikah, mereka kadang tergantung pada orangtuanya dan menghindari kontak personal dengan orang lain. Gangguan kepribadian SPD didiagnosa berdasarkan beberapa kriteria berikut;
1. Pola perilaku menetap yang tidak berpengaruh dari bentuk hubungan sosial dan keterbatasan pengungkapan ekspresi emosi dalam pelbagai hubungan antar pribadi pada awal masa dewasa;
a. Tidak pernah tertarik atau menikmati dalam berhubungan dengan orang lain termasuk untuk menjadi bagian dalam keluarga
b. Hampir selalu memilih aktivitas untuk menyendiri
c. Sangat sedikit diantaranya yang tertarik pada aktivitas seksual
d. Sangat jarang untuk memilih waktu untuk bersenang-senang
e. Sedikit mempunyai teman akrab
f. Tidak terpengaruh pada pujian dan kritik dari orang lain
g. Perilaku "dingin", emosi datar
2. Gangguan kepribadian skizoid tidak muncul yang disebabkan oleh skizofrenia, gangguan mood dengan gejala psikotik dikemudian hari, gangguan psikotik lainnya atau disebbkan oleh gangguan perkembangan termasuk fungsi fisiologis dari dampak langsung pengobatan medis.
TREATMENT
Medikasi
Pengobatan untuk individu dengan gangguan kepribadian skizoid (SPD) tidak begitu diperlukan, kecuali bila dokter beranggapan perlunya obat-obatan bila pasien disertai dengan gangguan kecemasan.
Psikoterapi
Individu dengan gangguan kepribadian skizoid sangat sulit untuk mendapatkan treatment, hal ini disebabkan bahwa individu dengan gangguan SPD beranggapan bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja, bahkan individu tersebut tidak peduli sama sekali dengan terapi. Ini menjadi alasan treatment dianggap tidak diperlukan bagi individu dengan gangguan kepribadian skizoid. kecuali dalam beberapa kasus dimana individu senagaja datang pada terapis yang diakibatkan adanya gangguan lainnya seperti ketergantungan pada kebiasaan-kebiasaan buruk yang disadari oleh indivdu bersangkutan.
Test Psikologi
Beberapa test psikologi yang dapat mendiagnosa adanya gangguan kepribadian skizoid;
― Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI-2)
― Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI-II)
― Rorschach Psychodiagnostic Test
― Thematic Apperception Test (TAT)
Psikoterapi yang sering digunakan untuk gangguan kepribadian skizoid adalah cognitive-behavioral therapy (CBT), terapi keluarga dan terapi psikodinamika. Bila individu mempunyai pasangan hidup, terapi pasangan (couples therapy) dapat digunakan untuk membentuk komunikasi antar pasangan
Terapi Individu.
Berhasilnya terapi pada individu dengan gangguan SPD membutuhkan waktu yang relatif lama, dibutuhkan kesabaran untuk mengubah persepsi yang salah terhadap cara memandang persahabatan untuk menciptakan hubungan interpersonal yang baik. Pada awal terapi, terapis akan menyuruh pasien/klien untuk mengungkapkan apa yang dibayangkan oleh individu menyangkut sebuah hubungan persahabatan dan ketakutan-ketakutan yang dirasakan oleh individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Selanjutnya terapis akan menyusun langkah-langkah kedepan secara bersama dengan klien untuk penyembuhannya.
Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakan salah satu treatment yang paling cepat dan efektif, meskipun demikian terapi kelompok tetap menemui kesulitan ketika individu SPD ikut dalam partisipasi kelompok tersebut. Oleh karenanya individu diberikan kenyamanan dalam grupnya, terapis juga harus menjaga dari kritikan anggota lainnya. Terciptanya keakraban antar sesama anggota merupakan salah satu harapan dari terapi ini dengan menciptakan hubungan-hubungan sosial yang saling mendukung. Terapi kelompok akan memberi pengalaman-pengalaman sosial yang bermanfaat, saling mengerti sesama anggota, berkomunikasi sampai pada memahami orang lain.
Individu dengan SPD dalam hubungan sosial cenderung tidak menunjukkan ekspresi emosi, ia tidak tertarik pada hal-hal tertentu yang terjadi di sekelilingnya. Bermuram dan menjauhkan diri dari yang lain sehingga ia kadang terlihat seperti menyendiri dalam keterasingan.
Meskipun demikian individu dengan gangguan kepribadian SPD yang lebih menyukai menyendiri, akan tetapi tetap menyukai kehidupan sosial, artinya individu tersebut tidak mengurung dirinya dengan menghindari orang lain semata, ia masih tetap keluar ruangan dan tidak bersembunyi ―beda halnya dengan gangguan kepribadian menghindar (Avoidant Personality Disorder; APD) [Dobbert, D. (2007) Understanding Personality Disorders: An Introduction. Greenwood Press]
Beberapa perilaku pada individu dengan gangguan SPD adalah minimnya ekspresi emosi, kebanyakan orang normal akan menganggap bahwa ia tidak tertarik dengan sesuatu hal yang sedang terjadi, kurangnya perhatian dan tidak sensitif. Individu tersebut juga kesulitan untuk menunjukkan ekspresi amarah atau permusuhan dengan orang lain.
Gangguan kepribadian ini (skizoid) tidaklah sama dengan gangguan skizofrenia (schizophrenia) walaupun ada kemiripan pada nama, skizofrenia dikategorikan sebagai gangguan psikotik. Namun demikian SPD sering disebut sebagai gangguan mental "spektrum dari skizofrenia", beberapa simtom yang ada pada SPD seperti menghindari kontak pribadi dengan orang lain, minimnya ekspresi emosi merupakan simtom yang terdapat pada skizofrenia pula. Bedanya, pada SPD tidak terjadinya penyimpangan persepsi, paranoia dan ilusi dibandingan dengan kepribadian schizotypal maupun pada gangguan psikotik episode dari skizofrenia.
Untuk bekerja, individu dengan gangguan SPD dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, kesulitan akan dialami bila individu terlibat dalam hubungan interpersonal dengan rekan kerja atau orang lain. Individu dengan gangguan SPD juga dapat menikah, namun kesulitan akan ditemui dalam penciptaan hubungan lekat (intimacy) dengan pasangannya disamping itu, individu dengan tipe ini menunjukkan ketidaktertarikan pada hubungan seksual.
SIMTOM
Individu dengan gangguan SPD sangat jarang menikah, mereka kadang tergantung pada orangtuanya dan menghindari kontak personal dengan orang lain. Gangguan kepribadian SPD didiagnosa berdasarkan beberapa kriteria berikut;
1. Pola perilaku menetap yang tidak berpengaruh dari bentuk hubungan sosial dan keterbatasan pengungkapan ekspresi emosi dalam pelbagai hubungan antar pribadi pada awal masa dewasa;
a. Tidak pernah tertarik atau menikmati dalam berhubungan dengan orang lain termasuk untuk menjadi bagian dalam keluarga
b. Hampir selalu memilih aktivitas untuk menyendiri
c. Sangat sedikit diantaranya yang tertarik pada aktivitas seksual
d. Sangat jarang untuk memilih waktu untuk bersenang-senang
e. Sedikit mempunyai teman akrab
f. Tidak terpengaruh pada pujian dan kritik dari orang lain
g. Perilaku "dingin", emosi datar
2. Gangguan kepribadian skizoid tidak muncul yang disebabkan oleh skizofrenia, gangguan mood dengan gejala psikotik dikemudian hari, gangguan psikotik lainnya atau disebbkan oleh gangguan perkembangan termasuk fungsi fisiologis dari dampak langsung pengobatan medis.
TREATMENT
Medikasi
Pengobatan untuk individu dengan gangguan kepribadian skizoid (SPD) tidak begitu diperlukan, kecuali bila dokter beranggapan perlunya obat-obatan bila pasien disertai dengan gangguan kecemasan.
Psikoterapi
Individu dengan gangguan kepribadian skizoid sangat sulit untuk mendapatkan treatment, hal ini disebabkan bahwa individu dengan gangguan SPD beranggapan bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja, bahkan individu tersebut tidak peduli sama sekali dengan terapi. Ini menjadi alasan treatment dianggap tidak diperlukan bagi individu dengan gangguan kepribadian skizoid. kecuali dalam beberapa kasus dimana individu senagaja datang pada terapis yang diakibatkan adanya gangguan lainnya seperti ketergantungan pada kebiasaan-kebiasaan buruk yang disadari oleh indivdu bersangkutan.
Test Psikologi
Beberapa test psikologi yang dapat mendiagnosa adanya gangguan kepribadian skizoid;
― Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI-2)
― Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI-II)
― Rorschach Psychodiagnostic Test
― Thematic Apperception Test (TAT)
Psikoterapi yang sering digunakan untuk gangguan kepribadian skizoid adalah cognitive-behavioral therapy (CBT), terapi keluarga dan terapi psikodinamika. Bila individu mempunyai pasangan hidup, terapi pasangan (couples therapy) dapat digunakan untuk membentuk komunikasi antar pasangan
Terapi Individu.
Berhasilnya terapi pada individu dengan gangguan SPD membutuhkan waktu yang relatif lama, dibutuhkan kesabaran untuk mengubah persepsi yang salah terhadap cara memandang persahabatan untuk menciptakan hubungan interpersonal yang baik. Pada awal terapi, terapis akan menyuruh pasien/klien untuk mengungkapkan apa yang dibayangkan oleh individu menyangkut sebuah hubungan persahabatan dan ketakutan-ketakutan yang dirasakan oleh individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Selanjutnya terapis akan menyusun langkah-langkah kedepan secara bersama dengan klien untuk penyembuhannya.
Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakan salah satu treatment yang paling cepat dan efektif, meskipun demikian terapi kelompok tetap menemui kesulitan ketika individu SPD ikut dalam partisipasi kelompok tersebut. Oleh karenanya individu diberikan kenyamanan dalam grupnya, terapis juga harus menjaga dari kritikan anggota lainnya. Terciptanya keakraban antar sesama anggota merupakan salah satu harapan dari terapi ini dengan menciptakan hubungan-hubungan sosial yang saling mendukung. Terapi kelompok akan memberi pengalaman-pengalaman sosial yang bermanfaat, saling mengerti sesama anggota, berkomunikasi sampai pada memahami orang lain.